November21
Musik Jazz di tempat asalnya, Amerika, muncul dari respon masyarakat strata bawah (baca: budak belian negro) terhadap kondisi sosial saat itu, tekanan-tekanan kehidupan mereka saat itu memunculkan suatu kreativitas untuk mencurahkan perasaan dan menghibur diri mereka, sehinga muncul Musik Jazz. Pada awal perkembangannya Jazz selalu dekat dengan peristiwa-peristiwa sosial dan politik, dimana para pionir-pionir Jazz seperti

Jelly Roll Morton, Louis Armstrong, Duke Ellington, Thelenios Monk, Charles Mingus sampai John Coltrane dan Miles Davis, selalu memunculkan gebrakan-gebrakan baru dalam musik jazz bedasarkan situasi sosial maupun politik saat itu, seperti munculnya Swing, Bebop, Cool Jazz sampai Free Jazz dan Jazz Rock. Uniknya Musik Jazz pada saat itulah yang bisa menyatukan antara komunitas ras dan strata yang berbeda-beda di Amerika sana. Musik Jazz-pun menyebar ke seluruh dunia. Di beberapa negara musik Jazz bisa menyesuaikan dengan atmosfir budaya setempat, sehingga muncul istilah-istilah European Jazz, Latin Jazz, Skandinavian Jazz, Indo-Jazz Fusion, dan lain-lain.
Bagaimana perkembangan Jazz di Indonesia ?

Jazz di Indonesia, menurut penulis Belanda Allard J.M. Moller, sudah masuk sejak tahun 1922, berarti hampir bersamaan dengan era Swing Jazz. Jazz yang didatangkan ke Indonesia untuk menghibur orang-orang asing yang masih menduduki bumi indonesia ini, tentunya dikemas dalam acara dan tempat yang elit, dan pada perkembangannya-pun akhirnya musik jazz di Indonesia banyak dipentaskan di hotel-hotel, bar-bar, café-café dan tempat-tempat sejenisnya. Meskipun akhirnya musik jazz bisa juga diapresiasi dan ditonton masyarakat awam tapi kesan bahwa musik jazz adalah musik yang elitis dan sukar diapresiasi oleh masyarakat awam masih melekat sampai saat ini.
Berangkat dari kondisi inilah seorang musisi Djaduk Ferianto mempunyai kegelisahan untuk menghapus citra musik jazz yang hanya elitis tersebut. Dia berkeyakinan, bahwa jazz sebagai musik yang terbuka dan luwes bisa diapresiasi semua lapisan masyarakat dan dapat berbaur dengan kehidupan budaya setempat. Dengan mengajak kerjasama dengan WartaJazz, Hattakawa -linkage dan Novindra –beyond the stages, akhirnya Djaduk Ferianto sepakat menelurkan gagasan event jazz festival dengan diberi nama Ngayogjazz. NGAYOGJAZZ dikonsep sebagai sebuah event interaksi sosial yang menggunakan media permainan musik jazz. Karena bukan sekedar pertunjukan, NGAYOGJAZZ akan menghilangkan semaksimal mungkin jarak antara pemain di panggung dengan publik penonton, sehingga akan benar-benar terwujud interaksi dalam bentuk performance dengan apresiasi spontan. Di event ini musik Jazz juga dipadukan dengan seni musik maupun pertunjukan seni dari tradisi masyarakat setempat dan bersifat “open jam session”. Kemasan demikian menjadikan Ngayogjazz menjadi sebuah festival jazz dalam format unik dibanding festival jazz yang pernah ada.
Hal ini adalah sebuah pilihan cara memainkan dan menikmati musik jazz yang lebih egaliter dan terjangkau oleh apresiasi masyarakat awam. Ngayogjazz akan pula berupaya untuk menunjukan bahwa musik Jazz adalah sangat terbuka dan bisa dinikmati oleh siapapun dan bisa dipadukan dengan jenis musik apapun maupun seni yang lain.
