Oleh-oleh dari Ngayogjazz 2013

Ngayogjazz 2013, Tak Sekedar Berkesan Untuk “Kita”

oleh: Seto

Ditengah-tengah lalu lalang orang-orang yang datang sore itu, ada seorang pria yang berusaha untuk melewati kubangan air. Dia berjalan perlahan dengan mengenakan sandal dan juga jas hujan plastik berwarna biru. Rupanya dia tidak datang dari Indonesia namun berasal dari Jerman. Bersama dengan temannya, yang kebetulan tinggal di Jakarta, mereka datang untuk menikmati kemeriahan Ngayogjazz.

Pria ini bernama Pari, dia datang ke Indonesia untuk melakukan riset dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta. “Saya menemukan informasi mengenai Ngayogjazz dari teman saya yang ada di Jakarta. Lalu saya juga cek websitenya juga”. Pari merasakan bahwa atmosfir Ngayogjazz yang berbeda dari pertunjukan jazz pada umumnya telah menarik perhatiannya. Pari menjelaskan bahwa, “Aku sangat suka disana (desa Sidoakur). Suasananya bagus dan tempatnya bagus juga”. Ia juga menambahkan “Aku sudah ke jazzfestival, tapi ini biasanya ada di satu tempat seperti lapangan atau historical site dan tidak bercampur dengan masyarakat”. Pari juga menambahkan bahwa pengalaman seperti ini baru pertama kali ia temukan di Indonesia. “Sejauh yang aku tahu tidak ada acara jazz yang diadakan di desa (di Jerman). Disana pasti ada orang yang mengeluh dan merasa diganggu”.

Saat Brink Man Ship tampil di panggung Guyub, mereka seolah-olah menemukan kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Penampilan apik mereka diatas panggung seperti enggan untuk berakhir. Mereka juga ikut serta sehari sebelumnya ketika warga dan tim Ngayogjazz mengadakan tumpengan di desa Sidoakur. Mereka tampak begitu antusias dan menikmati hidangan tumpengan yang juga dibagikan kepada mereka. Bagi mereka, semua itu adalah pengalaman baru yang tak pernah dirasakan sebelumnya.

Pengalaman yang berbeda juga dirasakan oleh Resty dan Eva-Maria, mahasiswi yang juga datang untuk menyaksikan Ngayogjazz 2013. Resty mengungkapkan bahwa Ngayogjazz kali ini menarik untuk diikuti. “Ngayogjazz bagus, jarak satu panggung ke panggung lain pas karena suaranya nggak tumpang tindih gitu, keren sih”. Namun Resty juga sedikit memberikan kritik, “waktu kita lagi nonton Chaseiro kan ada arak-arakan wayang tuh, nah itu jatohnya nganggu soalnya kan di panggung lagi ada performance”. Eva-Maria, mahasiswi yang berasal dari luar Indonesia, memiliki pendapat yang berbeda. Baginya, Ngayogjazz kali ini memberikan pengalaman baru untuk dirinya. “High quality jazz and a colorful mix of musi-and-lifestyles. The village has turned into one single stage where everyone is participating. Great event”, ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa, “I could see that yogya has quite a big fable for jazz. No rain and full moon shining from above”.

Ngayogjazz 2013 kali ini tidak hanya menarik perhatian orang-orang yang tinggal di Yogyakarta ataupun Indonesia, tetapi juga yang berasal dari luar Indonesia. Bagi mereka, pengalaman yang mereka temukan di Ngayogjazz telah memberikan warna tersendiri. Kreatifitas Ngayogjazz ini kemudian tidak bisa dilepaskan juga dari kerja sama apik yang dibangun bersama antara tim Ngayogjazz dengan warga. Kerja sama inilah yang menghasilkan sebuah pengalaman yang tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang Indonesia yang menyaksikan tetapi juga mereka yang datang dari luar untuk menyaksikan atau malah menjadi pengisi acara untuk Ngayogjazz.

Berakhir Pekan Sambil Nge-Jazz di Ngayogjazz 2013

Oleh: Agnes Gita Cahyandari (Gita)

Akhir pekan, tepatnya Sabtu Wage, 16 November 2013 lalu, Ngayogjazz, dengan mengambil lokasi di Desa Wisata Sidoakur, Godean, Sleman, kembali hadir ditengah-tengah penikmat musik Jazz Indonesia, khususnya Yogyakarta. Suasana didominasi oleh warna hijau; sawah, pepohonan rindang, rerumputan, hingga tanaman-tanaman di dalam pot. Ya, Desa Wisata Sidoakur ini memang merupakan sebuah desa wisata yang mengembangkan budaya dan lingkungan. Sehingga, tak heran apabila Ngayogjazz kali ini terasa lebih ‘hijau’ dan teduh.

Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, Ngayogjazz 2013 tetap konsisten dengan konsep Jazz untuk rakyat. Mengusung tema Rukun Agawe NgeJazz, suasana Ngayogjazz 2013 ini memang terlihat sangat damai, adem, dan rukun. Semangat gotong-royong dan kebersamaanpun juga nampak dengan jelas. Rupanya, baik para panitia, warga setempat, maupun para penonton seperti terbawa suasana ‘rukun’, yang jelas membuat acara berjalan dengan lancar.

Beberapa hari sebelum Ngayogjazz berlangsung, Desa Wisata Sidoakur terasa sangat sepi. Angin semilir, dedaunan melambai-lambai serta rumput bergoyang, rasanya sulit membayangkan suasana desa sedamai itu disulap menjadi tempat berlangsungnya festival Jazz yang pastinya ramai. Namun bukan Ngayogjazz kalau tidak bisa ‘menyulap’nya. Satu hari sebelum acara, seketika suasana Desa Wisata Sidoakur berubah! Masih dengan pepohonan rindang, namun sudah ada panggung-panggung yang berdiri tegak dan tersebar diwilayah desa. Dekorasi berupa foto-foto dokumentasi Ngayogjazz sebelumnya juga sudah terpasang. Ditambah dengan gotong-royong antara panitia dengan warga setempat, yang sama-sama ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan Ngayogjazz 2013 ini, atmosfer Jazz sudah mulai terasa di Sidoakur.

Ada lima panggung dalam Ngayogjazz 2013 ini. Empat diantaranya, yaitu Panggung Wawuh, Guyub, Sayuk-Rukun, dan Srawung, adalah panggung besar, dan satu lagi Panggung Tradisional. Panggung Wawuh, sebagai panggung pertama, memulai acara dengan menampilkan Jathilan dari warga Sidoakur. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00, namun area sekitar Panggung Wawuh sudah ramai didatangi baik oleh warga sekitar maupun para penonton lainnya. Sekitar pukul 12.30, konsentrasi pindah ke Panggung Sayuk-Rukun untuk acara pembukaan. Setelah itu, Ngayogjazz 2013 resmi dibuka!

Sore hari, hujan sempat mengguyur Sidoakur. Penonton tidak serentak meninggalkan Ngayogjazz, melainkan berganti seragam jas hujan plastik warna-warni! Suasanapun semakin meriah karena warna-warni jas hujan menghiasi area, disela-sela dominasi warna hijau dari pepohonan dan dedaunan. Permainan dari para musisi juga tidak lantas jadi menurun, melainkan semakin meningkat! Semakin memanas karena kemeriahan para penonton, meskipun hujan cukup deras.

Hingga puncak acarapun, penonton masih setia berada di Sidoakur. Bahkan jumlahnya bertambah. Para penonton seolah-olah tidak mau melewatkan akhir pekannya sambil nge-Jazz bersama di Sidoakur. Gotong royong, kebersamaan, dan rukun, itulah Jazz! Ditambah lagi dengan penampilan dari musisi-musisi handal yang tampil di Ngayogjazz 2013, suasana semakin nge-Jazz!

Jadi, pantaslah bila Sabtu Legi, 16 November 2013 lalu diberi predikat sebagai akhir pekan Ter-ngeJazz. Tidak hanya karena penampilan para musisi saja, tapi juga semangat gotong-royong, semangat kebersamaan, serta semangat kerukunan yang muncul pada Ngayogjazz 2013 ini. Semoga akhir pekan yang dihabiskan sambil nge-Jazz ini bisa menambah semangat gotong-royong, kebersamaan, dan kerukunan bagi kita semua, tak lupa semangat nge-Jazz. Sampai jumpa di Ngayogjazz 2014! Sampai berakhir pekan sambil nge-Jazz di tahun depan!

Romansa Ngayogjazz 2013

Lagi-lagi Ngayogjazz 2013 hadir sebagai suatu event musik jazz yang fenomenal. Mengusung konsep yang lain, Ngayogjazz 2013 menjungkirbalikkan acara musik jazz di Indonesia yang biasanya dikemas elit menjadi acara musik jazz yang merakyat. Mengembalikkan cita rasa jazz yang sebenarnya, Ngayogjazz 2013 menghadirkan jazz yang sumambrang yaitu jazz yang lintas kelas, usia dan gender. Mengusung tagline “Rukun Agawe Ngejazz”, menunjukkan bahwa Ngayogjazz 2013 adalah jazz khas Jogja yang mempunyai kolaborasi semangat jazz dan tradisional. Ngayogjazz 2013 adalah sebuah hajatan bersama, jazz milik komunal yang menjangkau, mengajak dan melibatkan.

 Desa Wisata Sidoakur menjadi tempat berlangsungnya Ngayogjazz 2013. Sebagai sebuah desa wisata yang berorientasi pada lingkungan, membuat mata pengunjung Ngayogjazz 2013 dimanjakan dengan pemandangan yang hijau, teduh dan tenang. Teriknya matahari Yogyakarta sama sekali tidak mengurangi kesejukkan desa. Rumah-rumah mempunyai pohon-pohon berukuran sedang yang berfungsi sebagai peneduh. Daun-daun lebat dari pohon-pohon itu banyak yang keluar ke jalan desa. Kanopi hijau itu cukup untuk membuat jalan desa yang hanya selebar dua mobil berukuran sedang itu lebih rindang.

Tak hanya pepohonan yang memberikan rasa teduh dan tenang di Sidoakur. Warga Sidoakur yang ramah dan murah senyum juga turut serta memberi keteduhan dan ketenangan itu. Sapaan yang diikuti senyuman, keramahtamahan itulah yang ditunjukkan oleh warga Sidoakur kepada semua pengunjung Ngayogjazz 2013. Sama sekali tidak ada warga yang acuh kepada pengunjung yang ingin berteduh ketika hujan atau melonggarkan kaki sejenak setelah berjalan dari panggung ke panggung.

Panggung Tradisional, Panggung Wawuh, Panggung Guyub, Panggung Sayuk Rukun dan Panggung Srawung dimeriahkan oleh pengisi acara dari dalam maupun luar negeri yang diajak untuk bermain di Ngayogjazz 2013.Beberapa di antaranya seperti Monita Tahalea, Idang Rasidi, Peni Chandrarini, Nita Aartsen, Oele Pattiselano Trio, Chaseiro, Fombi Feat Ketzia, Kirana Big Band, Komunitas Jazz (Jogja, Semarang, Semarang, Solo, Purwokerto, Pekanbaru dan Balikpapan), Jerry Pellegrino (Amerika), Erik Truffaz (Perancis), Baraka (Jepang), D’AQUA (Jepang) dan Brink Man Ship (Swiss) dll. Panggung Tradisional adalah panggung yang dibuat khusus untuk penampil dari Sidoakur seperti Gejog Lesung, Panembrana, Keroncong dan Hadrah. Hal ini membuktikan bahwa Ngayogjazz 2013 memang memberikan ruang untuk kegembiraan bersama. Penonton, pemilik venue, penggagas, pengisi acara dan tamu-tamu secara komunal diajak untuk terlibat bersenang-senang bersama menggunakan jazz sebagai media.

Setiap tahunnya Ngayogjazz selalu menghadirkan sesuatu yang baru dan berbeda. Ngayogjazz 2013 pun demikian. Ada dua hal yang baru yang dihadirkan,  yaitu julukkan baru untuk Idang Rasidi yang terkenal sebagai seorang musisi jazz legendaris Indonesia  yaitu “Jazz Proletar”. Djaduk Ferianto mengatakan bahwa julukkan ini pantas disematkan karena jasa dan dedikasi Idang Rasidi untuk jagad jazz Indonesia. Kedua, pembukaan Ngayogjazz 2013 yang merupakan cara baru di Indonesia yaitu menghadirkan salah satu tokoh lahirnya bumi Mataram yaitu Arya Penangsang. Adipati Arya Penangsang dan kudanya yang bernama Gagak Rimang sengaja dihidupkan kembali di Ngayogjazz 2013 supaya semangat perlawanan musik jazz juga kembali hidup. Arya Penangsang memberi pesan dalam orasinya bahwa Ngayogjazz itu kesenian rakyat. Dengan Ngejazz, bersama-sama kita harus rukun sekaligus kita harus melawan, melawan dan bersekutu dengan kegembiraan.

Sebagai peristiwa kebudayaan, seperti butir nomor tujuh dari Sapta Pesona Desa Sidoakur, Ngayogjazz 2013 telah menjadi kenangan manis bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Ngayogjazz 2013 yang digelar di desa wisata Sidoakur membuat Yogyakarta dan desa wisata Sidoakur menjadi kenangan ter-Ngejazz bagi kita semua (pengunjung, pengisi acara, warga maupun penggagas). Ngayogjazz 2013 terbukti sukses me-srawung-kan semua aspek “keindahan”. Keindahan desa wisata Sidoakur, keindahan kerukunan dan kebersamaan, keindahan gotong royong, keindahan berteduh dari hujan, keindahan tawa anak-anak kecil di bawah panggung, keindahan jalan-jalan setelah hujan reda, dan keindahan seorang tua yang mengatakan Ngayogjazz adalah konser keroncong dengan keindahan musik jazz itu sendiri.

Update Ngayogjazz 2013

Update 15.00

Seorang Adipati Membuka Ngayogjazz 2013

Arya Penangsang membuka gelaran Ngayogjazz 2013 di desa wisata Sidoakur.

Arya Penangsang membuka gelaran Ngayogjazz 2013 di desa wisata Sidoakur.

Pembukaan Ngayogjazz 2013 berlangsung gayeng, tertib, rukun dan meriah. Panggung Sayuk Rukun menjadi tempat berlangsungnya peristiwa bersejarah ini. Suasana ceria yang sebelumnya dibangun oleh alunan musik dari Kirana Bigband dan dagelan-dagelan yang dilontarkan oleh Alit Jabangbayi, Santi Zaidan dan Lusy Laksita semakin mengobarkan semangat pengunjung sehingga panggung Sayuk Rukun berangsur-angsur ramai. Tak hanya kawula muda saja, orang tua dan anak-anak juga terlihat tetap semarak memadati pelataran panggung sayuk rukun walau gerimis datang.

Ngayogjazz selalu menghadirkan sesuatu yang unik. Pembukaan Ngayogjazz 2013 pun mengusung hal yang unik. Biasanya pembukaan suatu acara dibuka oleh seorang pejabat pemerintahan negara atau daerah setempat. Ngayogjazz 2013 pun demikian tetapi pejabat yang diminta untuk membuka Ngayogjazz 2013 bukanlah pejabat biasa. Pejabat dari legenda Jawa, seorang  adipati bernama Arya Penangsang yang ditunjuk untuk membuka Ngayogjazz 2013. Simbolisasi Arya Penangsang dan kudanya yang bernama Gagak Rimang sebagai simbol perlawanan diibaratkan seperti musik jazz yang pada awalnya adalah musik perlawanan. Pembukaan Ngayogjazz 2013 diakhiri dengan tembang gugur gunung yang dinyanyikan bersama-sama oleh semua yang hadir di panggung Sayuk Rukun. “Gugur gunung tandang gawe sayuk-sayuk rukun. Bebarengan ro kancane, rilo lan legowo kanggo mulyaning nagoro”.

 

 

 

#JEPRETNGAYOGJAZZ2013

 

Link Banner (400x600px)

Mari “srawung” bersama dengan cara membagikan pada teman-temanmu di Facebook, apa yang kamu lihat dan nikmati di NGAYOGJAZZ 2013, dan dapatkan kado 10 buah merchandise NGAYOGJAZZ 2013 untuk 10 karya foto terpilih. Caranya?

  • Foto merupakan hasil rekaman segala aktivitas selama event Ngayogjazz 2013 berlangsung, mulai dari persiapan sampai selesai.
  • HAK CIPTA foto adalah milik peserta festival foto Ngayogjazz 2013. Panitia Ngayogjazz hanya boleh menggunakan sebatas kepentingan non profit Ngayogjazz.
  • Peserta festival foto Ngayogjazz 2013 bukan merupakan panitia Ngayogjazz 2013.
  • Peserta festival foto Ngayogjazz 2013 bebas menggunakan segala jenis kamera foto; handphone/gadget, kamera saku, kamera DSLR, dll.
  • Foto dikirim dengan meng-upload ke Facebook pribadi peserta dilengkapi hashtag #JepretNgayogjazz, sebelum 17 November 2013 jam 12.00 WIB. Peserta boleh menyertakan caption pada foto yang di-upload.
  • Peserta festival foto Ngayogjazz 2013 bebas mengirim lebih dari 1 foto.
  • Foto yang dipilih panitia Ngayogjazz hanya foto yang dilengkapi hashtag #JepretNgayogjazz.
  • 10 foto terpilih akan mendapatkan Merchandise Ngayogjazz 2013.
  • 10 foto terpilih akan diumumkan melalui website Ngayogjazz pada 24 November 2013 pukul 00.00 WIB.

 

PENGUMUMAN FOTO TERPILIH #JEPRETNGAYOGJAZ

folder_2_samsaptono_1399757_10201357908682974_1331222605_o

folder_3_nikmasubekti_1426659_10201755970893639_915389577_n

folder_7_JAUHAR el HAKEEM_1404785_102018740757126791734549791_o

folder_10_eddy.watari_1402131_702198653124196_2060524123_o

folder_13_arwan.ita_1404641_702604229759393_41374735_o

folder_14_Arman.yulianta_1457759_10201064633713307_218430113_n

folder_15_ardianandipradana_1403355_10201010171448893_405893199_o

folder_16_Andre Redhi_1422526_10202508837592983_215450067_n

folder_17_AmirudinAkhmad_1404418_10200829934452159_1622339157_o

 folder_18_agungportal.net_1398924_10201628615609499_706776423_o

 

 

Note:

Semua pemilik foto terpilih yang tercantum di atas wajib mengirimkan SMS berisi Nama Lengkap; Nomer HP; dan alamat akun Facebook ke nomer 0856 4337 8074 untuk konfirmasi pengambilan kado. SMS ditunggu paling lambat Hari Sabtu, 1 Desember 2013. Selamat, ya honn! :)

 

 

Peta Menuju Ngayogjazz 2013 Sidoakur


DESA WISATA SIDOAKUR 

Jethak II, Kelurahan Sidokarto, Kecamatan Godean,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
7°46’10″ S, 110°18’43″ E atau -7.769°, 110.312° (Versi Google)
Flyer VT ngayogjazz 2013 - V 15x20 cm - 20131020

Ngayogjazz 2013

Rukun Agawe Ngejazz.

Ngayogjazz dari pertama diadakan selalu mengusung tema yang berlainan setiap penyelenggaraannya, dan selalu berkesinambungan. Setelah di tahun 2011 kemarin mengusung tema “Nandoer Jazz ing Pakarti” dimana dari “plesetan” peribahasa jawa “nandur woh ing pakarti” yang berarti melalui musik jazz menanamkan nilai-nilai musik jazz itu sendiri yang diterapkan dalam kehidupan bermusik maupun sehari hari. Dan di tahun 2012 mengambil tema “Dengan Jazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz” yang diambil dari suatu jargon pembangunan, di mana diharapkan saat ini para musisi-musis jazz terutama generasi muda yang telah bersemai di Ngayogjazz bisa mandiri mengembangkan kehidupan bermusiknya, baik dalam kreatifitasnya maupun karir bermusik mereka. Tentunya dengan perkembangan musik jazz yang sudah sedemikian pesat di tanah air sehingga menimbulkan juga keberagaman kreatifitas mereka, dan dengan keberagaman inilah justru Ngayogjazz mengajak mereka untuk bersama-sama menuju keharmonisan seperti sebuah orchestra yang meskipun tiap alat musik mengeluarkan bunyi yang berbeda tetapi jika dimainkan bersama dengan harmonis akan menjadi indah dan menimbulkan suasana yang menyenangkan dan menentramkan. Inilah kerukunan dalam musik jazz di mana musik ini mengajarkan bahwa individu-individu adalah bagian dari sebuah komunitas yang lebih besar, bagaimana kita bisa individual tetapi sekaligus komunal. Inilah “RUKUN AGAWE NGEJAZZ”

 

Wira Swara lan Waranggana / Artists Line up :

  1. Monita Tahalea
  2. Shadu Band
  3. Idang Rasjidi
  4. Dony Koeswinarno Quintet
  5. Oele Pattiselano Trio
  6. Nita Aartsen, Bintang Indrianto, Jalu G. Pratidina
  7. Baraka (Jepang)
  8. D’aqua (Jepang)
  9. Erik Truffaz (Perancis)
  10. Brink Man Ship (Swiss)
  11. Peni Chandrarini
  12. Jerry Pellegrino (Amerika Serikat)
  13. Kirana Bigband
  14. Fombi
  15. Ketzia
  16. DAC Band
  17. Everyday Band
  18. Absolute Nations
  19. Bagus and Friends
  20. Keroncong Soesah Tidoer
  21. Institut Seni Indonesia
  22. Chaseiro
  23. Balikpapan Jazz Lovers
  24. Solo Jazz Society
  25. Jazz Ngisor Ringin Semarang
  26. Komunitas Jazz Jogja
  27. Gubug Jazz Pekanbaru

 

  Wekdal / Date-time :

Hari/ Tanggal         : Sabtu, 16 November 2013

Waktu                   : Pukul 09.00 WIB – 22.00 WIB

 

Papan / Venue:

Desa Wisata Sido Akur, Jethak II Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta

 

Event Pendamping/ Co-event: 

  1. Launching album komunitas Jazz Jogja.
  2. Pasar Jazz
  3. Festival Foto

 

 

 Rundown Acara: 

Panggung Tradisional

13.30-14.00                 Gejog Lesung Sidoakur

14.15-14.45                 Paduan Suara Jawa Sidoakur

15.00-16.00                 Keroncong Sidoakur

16.45-17.30                 Hadrah Sidoakur

18.15-19.00                 Keroncong Adakalanya

19.15-20.15                 Orkes Keroncong Soesah Tidoer

 

Panggung Wawuh

10.00 -12.00                Jathilan Sidoakur

13.15-13.45                 Coriander & The Spice Cabinet (Komunitas Jazz Jogja)

14.00-14.30                 Page Five (Komunitas Jazz Jogja)

14.45-15.15                 Kireina (Komunitas Jazz Jogja)

15.30-16.15                 Jazz Ngisor Ringin Semarang

16.30-17.00                 The Tampans (Komunitas Jazz Jogja)

17.15-17.45                 BEREMPAT (Komunitas Jazz Jogja)

18.15-18.45                 MuciChoir (Komunitas Jazz Jogja)

19.00-19.30                 Balikpapan Jazz Lover

19.45-20.30                 DAC Band (Semarang)

20.45-21.30                 D’AQUA (Jepang)

 

Panggung Guyub

13.15-13.45                 Kesper Percussion (Jogja)

14.00-14.30                 ISI Yogyakarta  (Jogja)

14.45-15.30                 Ketzia feat. Bad Cellists (Jogja)

15.45-16.30                 Shadu Band

16.45-17.30                 Oele Pattiselano Trio

18.15-19.00                 Dony Koeswinarno Quintet

19.30-20.15                 Brink Man Ship (Swiss)

20.30-21.15                 Nita Aartsen, Bintang Indrianto, Jalu Pratidina

21.30-22.15                 Monita Tahalea

 

Panggung Sayuk Rukun

12.30-12.45                 Kirana Big Band (Jogja)

12.45-13.15                 Prosesi Pembukaan Ngayogjazz

13.15.13.45                 Kirana Big Band (Jogja)

15.15-16.00                 Jerry Pellegrino (Amerika)

16.45-17.30                 The Everyday Band (Jogja)

18.15-19.00                 Erik Truffaz (Perancis)

19.30-20.15                 Chaseiro

20.30-21.15                 Idang Rasjidi

21.45-22.30                 Baraka (Jepang)

 

Panggung Srawung

13.15-13.45                 Blue Batik Replica Pekalongan

14.00-14.30                 Blank On 5 (Komunitas Jazz Jogja)

14.45-15.15                 Jes Udu Purwokerto

15.30-16.00                 Gubuk Jazz Pekanbaru

16.15-16.45                 Nilam & The Uptown Boys (Komunitas Jazz Jogja)

17.00-17.45                 Etawa Jazz (Komunitas Jazz Jogja)

18.15-18.45                 Nana Banana (Komunitas Jazz Jogja)

19.00-19.30                 Peni Candrarini

19.45-20.15                 Solo Jazz Society

20.30-21.15                 Bagus and Friends (Surabaya)

21.30-22.00                 AbsurdNation Quartet (Semarang)

 

Pranata Adicara / MC (Master of Ceremonial)

Lusy Laksita; Hendro Pleret; Bambang Gundul; Gepeng Kesana Kesini; Alit Jabangbayi; Gundhissos; Santi Zaidan; Fira Sasmita; Anggrian Hida (Simbah); Diwa Hutomo

 

Peta Lokasi Venue

Page_15_GaraGara_Pakeliran_update 20131108 2010

 

 

Pangembating Gawe / Event Management : *belum ada datanya

 

PETA LOKASI 

Flyer VT ngayogjazz 2013 - V 15x20 cm - 20131020

 

 

Kontak

Griya / Office           : Jl. Munggur 50, Demangan, Yogyakarta 55221

Telefon dan Faksimili : +62-274-512561

Serat Listrik / Email     : ngayogjazz@yahoo.com

Griya Maya / Website : www.ngayogjazz.com

Monita Tahalea

 

monita-jazzuality_zps859e551d

”Aku ingin jadi penyanyi dengan lirik dan nada lagu yang indah, menyampaikan setiap perasaan pada nyanyian ku. Menginspirasikan hal yang baik.”
Inspirasi Monita Angelica Maharani Tahalea untuk menjadi penyanyi menjadi gerbang pada sebuah kebaikan. Ini diawali pada ajang pencarian bakat Indonesian Idol musim kedua tahun 2005, dimana wanita kelahiran Jakarta, 21 Juli 1987 ini meraih peringkat keempat. Prestasi ini membuat langkah Monita untuk menjadi lebih profesional terpampang lebar.

Warna Jazz pada vokal Monita yang khas kemudian direkam di album Indonesian Idol Seri Cinta (2005) dengan lagu Keliru, yang pernah dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya, serta di album Kemenangan Hati (2006) milik Yovie Widianto dengan lagu ”Kekasih Sejati” dan ”Selingkuh”.

Potensi Monita pun menarik perhatian Indra Lesmana untuk menggarap sebuah album solo. Maka jadilahDream, hope & Faith, rekaman delapan lagu  yang langsung diproduseri oleh Indra Lesmana dan Hanny Lesmana di bawah label Inline Music (2010). Enam lagu di album itu adalah karya kolaborasi mereka, termasuk ”Di Batas Mimpi” yang juga ada di album Indra Lesmana sebelumnya, Kembali Satu (2008). Sedang dua lainnya adalah lagu aransemen ulang, ”Over The Rainbow”  yang dipopulerkan Judy Garland dan “God Bless The Child”  Billie Holiday.

(Sumber: www.wartajazz.com)

Idang Rasjidi

idang3

(sumber dari www.jazzuality.com)

Bagi komunitas dan sedulur jazz yang ada di berbagai kota di tanah air, tentu nama yang satu ini bukan lah nama baru dalam musik jazz. Sudah menjadi sebuah aktivitas yang biasa baginya untuk berpindah dari bandara satu ke bandara lain di Indonesia. Seakan-akan bandara adalah ruang transit belakang panggung yang disediakan baginya. Ini merupakan bukti walau tak lagi muda, beliau tetap membuktikan kecintaannya dan semangatnya terhadap musik jazz baik dari segi akademis maupun pertunjukan.

Idang Rasjidi (@idangrasjidi), juga bisa dikatakan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari musik jazz yang ada di Indonesia. Tentu bagi sebagian besar sedulur jazz tahu benar, Idang Rasjidi menjadi salah satu nama yang kemudian ikut andil dalam perkembangan musik jazz Indonesia bersama dengan Jack Lesmana, Maryono, Benny Likumahuwa, dan Benny Mustafa. Tidak hanya itu saja, sedulur jazz dari generasi muda pun juga didukung olehnya untuk bisa maju dan tampil ke panggung nasional.

Keyboardis yang lahir di Bangka Belitung, 26 April ini, telah bergelut dan terlibat aktif di dalam musik jazz tanah air sejak dekade 1970an hingga saat ini. Banyak nama proyek musik yang juga ikut diusung olehnya, seperti Galantic, Trigonia Trio, The Djakarta All Stars, Heaven Earth, dan beberapa tahun terakhir ini bersama Idang Rasjidi Syndicate.

Banyak album yang kemudian sudah lahir dari buah kreatifitasnya yang bisa dikatakan variatif. Namanya pun juga populer pada acara talk show TV di era 1990an, “Salam Canda” yang dibawakan bersama dengan Ebet Kadarusman. Idang Rasjidi bisa dilihat sebagai sosok yang memiliki spirit “muda”. Dengan jazz, canda, dan juga semangatnya Idang Rasjidi memberikan warna tersendiri dalam dunia jazz di tanah air. Bagi sedulur jazz yang tak sabar menantikan penampilannya, bisa menyaksikan langsung di Ngayogjazz 2013? Mari nge-jazz bersama Idang Rasjidi di Sidoakur.

 

Shadu Band

Shadu Band_dok traxmagz

(sumber dari www.traxmagz.com

Usia boleh saja masih muda tapi bicara masalah reputasi dan pengalaman, bassist berusia muda ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Shadu Shah Chaidar, putra pinais jazz Idang Rasjidi ini bisa dikatakan punya segudang pengalaman sebagai session player baik dalam recording maupun live show, banyak musisi dari negri kita sendiri seperti Dewa Budjana sampai musisi jazz mancanegara sepert Bob James mempercayakan Shadu untuk mengisi penampilan mereka sebagai bassist.

Sekitar setahun lalu bersama dengan saudaranya Shaku Rasjidi (drum), Fabion Hario Ajie (Saxophone), Fanny Kuncoro (Keyboard), dan Tico Laksana (guitar)   Shadu membentuk Shadu Rasjidi Band (SRB)

Dengan mengusung perpaduan Funk dan Fussiusison musisi-musisi muda di SRB ini mampu menyuguhkan musik yang menarik dan berenergi dan walaupun masih relatif baru, Shadu Rasjidi Band ini sudah beberapa kali hadir di beberapa festival jazz seperti World Youth Jazz Festival di Malaysia, Saliahara Jazz Buzz juga Java Jazz Festival di awal 2013 tahun.

Penampilan SRB kali ini bisa dikatakan ajang pulang kampung bagi beberapa personel SRB, yaitu Fanny dan Bion yang memang berasal dari Yogyakarta.

Baraka

Baraka

(Sumber dari www.barakarocks.com)

Baraka adalah sebuah band berformat trio yang berasal dari Jepang. Band yang terbentuk pada tahun 1997 ini beranggotakan Shin Ichikawa (bass, vocals), Issei Takami (guitar, vocals) and Max Hiraishi (drums).

Dalam bermusik Baraka memasukkan banyak aliran musik seperti Progresive Rock, Jazz, Funk, Blues selain Rock sebagai inti dari musik mereka. Paduan dari berbagai genre musik tersebut membuat musik baraka terasa kuat, energik, agresif namun tetap nikmat walaupun terkadang juga terasa keras. Paduan musik mereka tersebut membuat Baraka juga acap kali tampil di berbagai festival musik ternama seperti  Prog’Sud International Progressive Rock Festival , sebuah festival progresif rock ternama di Marseille di tahun 2006 dan 2008, WeLove Vintage Festival di Bologna

Baraka juga merupakan band yang cukup produktif dalam mengeluarkan album, tak kurang dari 11 album sudah mereka produksi sejak album pertama mereka direlease tahun 1999 hingga tahun 2012 lalu. Beberapa album mereka bahkan direalese oleh label label rekaman di luar Jepang seperti MGM di Australia.

Bagi penggemar musik cadas, kehadiran mereka jangan sampai melewatkan paduan musik Progresive Rock, Funk dan Blues melalui Baraka, grup asal negri sakura di Ngayogjazz 2013 kali ini.

Brink Man Ship

BMS2

Jan Galega Bronnimann adalah salah generasi muda musisi jazz dari Swiss. Sebuah generasi yang penuh dengan muatan informasi dan referensi up to date, termasuk dalam hal bermusik. Generasi musisi yang seolah melahap semuanya yang dianggapnya menarik dan kadang terlihat kontradiktif. Bahkan bagaikan orang yang berkepribadian ganda. Mungkin hal tersebut yang ingin disampaikan oleh saxophonis, bass klarinetis, pengguna efek-efek suara elektronis, sekaligus pendiri dari kelompok Brink Man Ship ini. Tentu saja melalui karya dan ekspresi musik yang disajikan bersama Brink Man Ship: sebuah visi ke depan musik jazz tanpa style dan prasangka rasial , diterima oleh sub-kultur kalangan pecinta jazz, rock dan bahkan ke dalam kelompok avant-garde.

Brink Man Ship sudah hadir sejak tahun 1999 dengan merilis album “Logbook”. Kemudian dilanjutkan dengan album “Tranlusion” (2000), “Elephant & Castle” (2003), “The Right Place To Be Lost” (2006), “Willisau” (2008) dan “Instant Replay” (2012). Formasi pemain dalam album terakhirnya itu antara lain Rene Reinmann (gitar, elektronik), Emanuel Schnyder (bass, elektronik), Chistoph Staudenmann (drum, komputer) serta menghadirkan juga bintang tamu Nya (vokal, elektronik) dan Joy Frempong (vokal). Dalam kesempatan lain mereka pernah mengajak salah satu tokoh musisi jazz terkemuka dari Norwegia, dengan warna musik serupa, trumpeter Nils Petter Molvaer, ikut bergabung menggarap salah satu album Brink Man Ship.

Brink Man Ship memang memiliki ciri khas pada penggunaan efek suara dalam permainan instrumen masing-masing personilnya yang kemudian diolah melalui proses elektronik menghasilkan suara-suara yang unik dan menarik. Penampilan mereka pun seolah memberikan batasan-batasan yang lebih lebar dan terasa modern.

Jangan lewatkan penampilan Brink Man Ship di Ngayogjazz kali  ini karena mereka akan mengajak anda ke dalam batasan-batasan baru dalam bermusik.

Erik Truffaz

Bisa dibilang Erik Truffaz (@eriktruffaz) adalah salah satu trumpeter unggulan dan terkemuka dari Eropa yang ada saat ini di bawah generasi trumpeter Eropa legendaris seperti Enrico Rava atau Tomasz Stanko. Lahir di Perancis tahun 1960, di usia 10 tahun, dia diperkenalkan oleh ayahnya yang juga mempunyai band ke dalam dunia musisi profesional. Masih di usia remaja, dia menambah pengalamannya dengan tampil bersama banyak group. Sampai akhirnya di suatu saat Erik mendengarkan album legendaris “Kind of Blue” milik Miles Davis, yang sangat mempengaruhi dalam permainannya dan bahkan merubah pandangan hidupnya. Tidak lama setelah itu Erik menjadi murid di Geneva Conservatoire.

Di sekolah, Erik akrab dengan karya-karya musik klasik, terutama dari Mozart dan Ravel. Namun Erik tetap memiliki gayanya sendiri dalam bermusik yang terpengaruh dari musik jazz dan berbagai musik yang ada pada saat itu, termasuk musik rock seperti Led Zeppelin, atau bahkan world music.

Pada tahun 1990, Erik membentuk grup Orange. Setahun kemudian, Orange berhasil mendapatkan sebuah penghargaan jazz prestisius dari Perancis, The Prix Special. Tidak lama setelah itu Erik membuat album pertama “Nina Valeria” dan langsung tampil di berbagai pentas musik termasuk di Montreux Jazz Festival.

Tahun 1996, Erik direkrut label EMI Perancis mengeluarkan album-album campuran elektro-akustik seperti  “Out of a Dream”, “The Dawn” and “Bending New Corners”. Tahun 2000, label rekaman jazz legendaris Blue Note tertarik untuk melebarkan jangkauan pendengarnya di Amerika Serikat dan dunia internasional. Kerja sama itu telah melahirkan album-album barunya seperti “The Mask” (2000) sampai “El Tiempo de la Revolucion” (2012). Hingga sampai saat ini, Erik Truffaz sudah mengantongi 18 album solo.

Karya-karya Erik Truffaz selama ini berkontribusi memberikan warna tersendiri dalam konfigurasi musik jazz menjadi sesuatu  yang mudah diakses oleh para generasi muda, modis serta mudah beradaptasi dengan perkembangan jaman yang populer. Mungkin bisa dibayangkan jamming antara Ravel, Miles Davis, Jimi Hendrix, para disc jockey dan Ravi Shankar.

Jerry Pellegrino

Jerry-LA

Jerry Pellegrino merupakan seorang pianis asal negri Paman Sam, mungkin namanya tidak seterkenal pianis-pianis lainnya tapi jika perhatikan ternyata Jerry menghasilkan banyak karya yang menghiasi film-film layar lebar maupun televisi di negrinya. Film “Spies”, “Another You”, dan “Mambo King” serta acara televisi “Telethon With The Stars” adalah beberapa bukti audio visual yang dihiasi karya Jerry Pellegrino. Di film, Mambo King yang bercerita tentang perjalanan musik musisi Latin Jazz, Jerry menggarapnya dengan sentuhan Latin Jazz  yang cukup apik.

Selain mengisi ilustrasi film  Jerry merupakan musisi jazz yang telah lama malang melintang di California. Penampilannya yang sederhana dan gampang untuk dinikmati membuat penampilannya selalu mudah diterima di berbagai kalangan dan usia. Keinginan Jerry dalam bermusik pun cukup sederhana, ia ingin semua penontonya menikmati permainan yang disuguhkannya.

Oele Pattiselanno

Oele Pattiselano 1

Selain gitaris jazz senior Sadikin Zuchra yang belum lama ini meninggal dunia, kita masih  layak berbangga dengan masih aktifnya Julius Sjoerd Pattiselanno, atau  yang lebih populer dengan panggilan Oele Pattiselanno (@OelePatt). Gitaris ini berdarah Ambon namun lahir di Malang 22 April 1946.

Berangkat dari keluarga yang memang dianugerahi dengan bakat musik, Oele mulai kenal gitar sejak kecil dari ayahnya, Piet Pattiselanno. Piet adalah gitaris band Hawaian terkenal di Surabaya yang bernama Rame Dendang. Oele banyak mendengarkan musik jazz sejak kecil dari koleksi piringan hitam ayahnya yang di antaranya terselip album para gitaris jazz kelas dunia semacam Kenny Burrell atau pun Joe Pass. Tidak puas dengan hal itu, Oele kemudian belajar jazz lebih serius dengan Jack Lesmana walaupun dalam waktu yang singkat saja.

Tidak lama setelah itu, tahun 1963 Oele membentuk band Crescendo bersama adik-adiknya yang juga musisi, Perry Pattiselanno (bass) dan Jacky Pattiselanno (drum) serta Didi Soekarno dan Denny Jossal. Grup ini memainkan berbagai macam jenis musik, dari jazz sampai lagu-lagu populer. Dua tahun kemudian, Oele pindah ke Jakarta dan bergabung dengan group Jazz Riders yang di dalamnya ada Benny Mustafa, Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, Didi Chia dan lain-lain. Kesempatan itu pun dijadikan Oele untuk menambah ilmunya sebagai musisi jazz.

Tahun 1984 bersama musisi-musisi jazz lainnya, Oele mendirikan Yayasan Jazz Indonesia, sebuah yayasan yang mewadahi para musisi jazz dari Indonesia dalam berkarya. Setelah Jazz Riders bubar, Oele membentuk kembali Trio Pattiselanno bersama adik-adiknya, Mellow Tones, Oele Pattiselanno & Friends bersama Didi Chia, Jilly Likumahuwa, Yance Manusama, Jacky Pattiselanno dan Otty Jamalus.

Peni Candra Rini

peni2

 

“Sejak kecil saya terbiasa dengan nada slendro-pelog,” kata Peni Candrarini (@peni_candrarini) yang memang mengalir darah seni dari sebuah keluarga seni di tengah-tengah masyarakat pedangan ikan di desa Campurdarat, Tulung Agung, Jawa Timur. Berangkat dari keslendro-pelogkan itu juga, namanya mulai dikenal dan diakui di tidak hanya Indonesia saja, paling tidak sudah di 5 benua dia pernah tampil dalam berbagai ajang festival kesenian bergengsi.

Peni sudah menjadi komposer dan penulis lagu dalam usia yang masih belia. Terutama ketika Peni bergabung dengan kelompok musik Sono Seni Ensemble – kelompok musik pimpinan I Wayan Sadra. Dalam kesempatan itu, dia menciptakan lagu ‘Bramastha’.  Selain itu, dia juga pernah menjadi sindhen untuk karya-karya komposer Rahayu Supanggah dengan kelompoknya Garasi Seni Benowo. Di sini pengetahuan sebagai komponisnya kembali bertambah.

 Peni juga pernah diundang di berbagai event seperti  International Gamelan Festival Amsterdam, Belanda, 2007; Jakarta Art Festival, 2007; Solo International Ethnic Festival, 2010; Asia Pasific Performance Exchange, Bali, 2010; Harare International Festival of the Arts, Zimbabwe, Africa, 2011; Malay Gamelan Festival, Trengganu, Malaysia, 2011; World Festival of Sacred Music di Los Angeles, Oktober 2011. Terakhir dia terlibat dalam pementasan teater di Surakarta dan Australia yang berjudul “Ontosoroh” pada bulan September 2013 lalu.

Nita Aartsen, Bintang Indrianto, Jalu Pratidina

Elanda Yunita Aartsen atau lebih kita kenal dengan nama Nita Aartsen (@NitaAartsen) adalah seorang pianis sekaligus vokalis kelahiran Jakarta. Nita Aartsen belajar bermain piano sejak berusia 5 tahun dan menyelesaikan studinya di Moscow Conservatory. Sebagai seorang pianis dan juga vokalis, Nita Aartsen telah merilis albumnya, “Nita Aartsen Quatro dan Dancing Soul”.

bintang-indrianto-bumi-marintih-salihara-jazz-buzz-februari

Bintang Indrianto (Sumber dari wartajazz.com)

Bintang Indrianto (@bintangbass) , nama yang sudah tidak asing lagi bagi penggemar musik terutama Jazz tanah air. Dalam album-album yang dibuatnya, Bintang sering kali tampil unik dan juga menggelitik bahkan tak terduga, baik secara ide, mungkin dalam penampilan ataupun proses rekaman. Seperti halnya pada lagu berjudul Gambir di album Akordeon, Bintang memindahkan perlatan studio recordingnya ke salah satu sudut stasiun Gambir untuk merekam lagu berjudul Gambir tersebut.

Jalu Pratidina (@jalupratidina), seorang musisi tradisi, tepatnya seorang pemain kendang yang sering tampil bersama dengan musisi-musisi jazz tanah air seperti Tohpati, Simak Dialog, dan Trisum. Sentuhan permainan kendangnya memberikan warna tradisi yang kuat pada setiap penampilannya bersama para musisi jazz tersebut.

Ditilik dari latar belakangnya, ketiganya memiliki latar belakang yang berbeda, dan ketiganya akan berkolaborasi di panggung Ngayogjazz 2013. Sentuhan klasik dari Nita Aartsen, permainan bass yang menggelitik dari Bintang Indrianto, dipadu dengan permainan kendang Jalu Pratidina dengan nuansa tradisionalnya, akan menghasilkan musik yang unik dan menarik untuk disimak.

Chaseiro

Chaseiro 1

Chaseiro (@chaseiro) berawal dari sekelompok mahasiswa UI yang tergabung dalam kegiatan vokal group. Kelompok tersebut di antaranya terdiri dari Candra Darusman (vokal, keyboards), Helmie Indrakesuma (vokals), Aswin Sastrowardoyo (gitar, vokal), Edwin Hudioro (flute, vokal), Irwan Indrakesuma (vokals), Rizali Indrakesuma (bass,vokal), dan Omen Norman Soni Sontani (vokal). Inisial nama mereka dijadikan nama group. Chaseiro juga sempat maju ke sebuah festival vokal group se-Jakarta. 6 Mei 1978, kala mereka menjadi juara satu festival tersebut akhirnya dijadikan hari berdirinya Chaseiro.

Chaseiro mulai meramaikan khasanah musik popular Indonesia dengan album “Pemuda” (1979) dengan lagu hit ‘Pemuda’. Album kedua muncul lagi di penghujung 1979 “Bila”. Kemudian selanjutnya “Vol. 3” (1981), “Ceria” (1982). Keempat album ini keluar hit-hit terkenal seperti ‘Dara’, ‘Ku Lama Menanti’, ‘Ceria’, ‘Sapa Pra Bencana’,  ‘Rio DeJaneiro’, ‘Sampai Jumpa Lagi’ dan masih banyak lagi yang sampai saat ini masih sering terdengar di banyak radio dan pertunjukan musik. Selepas empat album tersebut, Chaseiro hanya sesekali tampil di hadapan publik karena para personil sudah menggeluti profesi dan berkarya dalam bidangnya masing-masing. Hingga pada tahun 2001 keluar album kompilasi “Persembahan” sekaligus juga reuni besar mereka.

Seolah mendapat angin segar dari penggemar lama atau mungkin yang baru, Chaseiro masuk kembali ke studio pada tahun 2011 dan menghasilkan album “Retro” yang berisi lagu-lagu hits mereka dengan aransemen yang baru. Aktifitas Chaseiro pun bertambah banyak dengan tampil di beberapa event musik di Indonesia termasuk di Ngayogjazz 2011 dan akan bermain kembali di Ngayogjazz 2013.

DAC (Dynamic Action of Chord) BAND

DAC Band src facebook

(sumber dari facebook)

DAC BAND, DAC adalah Dynamic Action of Chord, sebuah fusion band asal Semarang yang pernah mengikuti Band Explosion 1987 dan Band Explosion 1988. DAC terdiri dari Didit (Keyboards), Dudut (Bass), Momo (Guitar),Iega (keyboards) dan Agusta (Drums). DAC memiliki prestasi tersendiri misalnya Dudut (Bass) pernah menyabet The Best Bass Player Band Explosion 1987 Jateng-DIY, The Best Bass Player Band Explosion 1988 se Indonesia. Momo (Guitar) pernah menyabet The Best Guitar Player Band Explosion 1987 Jateng-DIY, The Best Guitar Player Band Explosion 1988 se Indonesia.

Pada tahun 1989 DAC Band merilis album perdana mereka yaitu “Pentas” dengan formasi Didit (Keyboards),Dudut (Bass), Momo (Guitar),Agusta (Drums),Iega(Keyboards) & Guest Vocalis Dyah Kutut.

Setelah sekian lama vakum, Di tahun 2010 tepatnya 17 September 2010 DAC Band hadir kembali di acara Fusion Nite 80′s di Jajan Jazz Teras Kota BSD City dimana diselenggarakan atas kerjasama Himpunan Penggemar Jazz Fusion Indonesia (HPJFI) dengan Komunitas Jajan Jazz.

(Sumber: www.facebook.com/pages/DAC-BAND/)

AbsurdNation

AbsurdNation_1

AbsurdNation (@absurdnation) merupakan sekelompok musisi asal Semarang. Lahir pada tanggal 12 Desember 2012, AbsurdNation pertama kali tampil di jam session, dilanjutkan lima hari kemudian pada acara Jazz Ngisoringin (17 Desember 2012).

AbsurdNation sendiri digawangi oleh empat pemuda yang sepakat untuk mendalami Jazz dalam perspektif kehidupan yaitu Nanda Goeltom (@nandagoeltom) pada vokal, Yusuf Saputra (@yusuf_saputra) pada piano dan synth, Fauz Hibatul Haqqi (@fauzhaqq) pada bass, dan Fanny Wardoyo (@tukangtabuh) pada drum dan perkusi.

Beberapa panggung telah dicicipi oleh AbsurdNation, di antaranya adalah Jazz in the Mall di Semarang, Jazz di Atas Awan di Dieng, Indonesian Jass Festival (Agustus 2013) di Senayan, Jakarta, Solo City Jazz (Sept 2013) di Benteng Vasternburg, Solo, dan Lampung Jazz Festival (November 2013) di Bandarlampung.

Dengan mengsung spirit Ethnic Jazz, mereka sepakat untuk menjadi band indie yang tetap konsisten di jalur Jazz.

Tentu saja kehadiran AbsurdNation akan semakin menyemarakan Ngayogjazz 2013 kali ini. Seperti apa sajian yang akan mereka berikan? Kita tunggu saja.

Kirana Big Band

Kirana Big Band_jazzuality

Satu lagi grup musik yang mencuri perhatian masyarakat, khususnya di Jogja, yaitu Kirana Big Band. Grup ini sudah cukup sering tampil dalam acara-acara musik nasional, di antaranya adalah Jazz di Kampus  (27 Maret 2003), Guest Star ITB Big Band Festival 2009, World Jazz Festival di Bandung, Ngayogjazz 2009 di Gabusan, Bantul, Jazz n Blues 1, Jazz n Blues 2, Jazz n Blues 3, Solo City Jazz 2013, dan pernah beberapa kali tampil di panggung Java Jazz Festival.

Tahun ini, Kirana Big Band akan kembali tampil di panggung Ngayogjazz 2013. Mari kita tunggu bersama penampilan seperti apa yang akan mereka bawakan.

 

Ketzia Laurent

Ketzia

Bagi sedulur jazz yang datang dan turut serta di Ngayogjazz 2012 mungkin tidak asing lagi dengan Ketzia (@KetziaLaurent), yang menjadi salah satu pengisi acara di Brayut, Sleman. Ketzia Laurentyna telah menekuni dunia musik sejak usia 3 tahun. Berkolaborasi dengan Cisya Kencana Orchestra dan Andi Bayou Project membuatnya makin berkembang lebih jauh lagi. Saat ini Ketzia memfokuskan diri dalam mengembangkan karirnya dengan membuat lagu dan menulis puisi.

Di titik inilah Ketzia bertemu dengan Tembi Rumah Budaya. Tembi Rumah Budaya memiliki kepedulian dan keprihatinan terhadap syair lagu masa kini yang kurang memiliki kedalaman. Berangkat dari keprihatinan yang sama inilah maka lahirlah karya tunggal ‘Di Balik Keterbatasanku’. Karya Di Balik Keterbatasan adalah karya puisi Rizky Novialdi yang musiknya dibuat oleh Natanael Dimasto dan Ketzia serta di arransemen oleh Erwin Subian dan Gardika Gigih Pradipta. Karya ini kami wujudkan sebagai P-Pop atau Poetic Pop, yang coba memadukan puisi dengan musik pop yang ringan dan ‘easy listening’ bagi pendengarnya.

Blue Batik Replica

Profil Batik Replica Ngayogjazz 2013 copy

Sedulur jazz yang satu ini datang dari Pekalongan, Jawa Tengah. Mencoba untuk untuk mengusung banyak ide dan aliran dalam sebuah grup. Hal ini disebabkan karena Batik Replica sendiri adalah gabungan dari dua beberapa proyek yang pernah tinggal di Pekalongan. Dua proyek ini adalah TRIO UP dan RSP (Rusfian Santiko Project). Kedua proyek ini sama-sama telah bermain bersama dalam satu acara dan menjadi pembuka bagi Idang Rasjidi Syndicate.

TRIO UP, dengan anggota Yudho Prabowo (bass), Ichsan Sani (drum), dan Abdul Aziz (guitar), mencoba untuk membawakan sesuatu yang modern, mengeksplorasi suara baru, dan sesekali mencoba mengaransemen ulang lagu daerah ataupun lagu anak dengan gaya mereka. Sedangkan RSP, yang salah satu juga digawangi oleh Rusfian Santiko (guitar), mengusung blues yang punya ciri khas tersendiri. Akhirnya dari kedua perbedaan ini kemudian dicarilah sebuah titik temu dimana mereka bisa berbicara melalui satu bahasa, yaitu bahasa musik. Saat ini Blue Batik Replica beranggotakan: Rusfian Santiko (guitar), Yudho Prabowo (bass), Daniel (keyboard), dan Mukhlish Arif (drum) atau Swas Adi (drum).

Lagu-lagu mereka pun patut menjadi perhatian tersendiri. Bidadari di Medan Perang, salah satu nomor yang mencoba untuk mengkombinasikan unsur latin dengan blues. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang cukup sering dimainkan oleh Blue Batik Replica. Lagu lain yang kemudian coba tidak kalah bagusnya adalah Borneo Donuts. Lagu ini lebih terdengar rileks dengan tema yang simple dan dipadukan dengan nuansa groove modern. Salah satu lagu lain yang juga diperdengarkan di Ngayogjazz 2012 adalah Sound of Malaka, yang memiliki unsur jazz rock di dalamnya. Jadi sudah siap kah untuk menyaksikan penampilan mereka secara langsung? Mari kita saksikan sedulur jazz dari Pekalongan ini di Ngayogjazz 2013.

The Everyday Band

Everyday

Masih ingat dongeng percintaan Surya dan Rembulan yang dinyanyikan di pembukaan Ngayogjazz tahun 2012? Lagu ini bercerita tentang tragedi cinta matahari dan bulan yang dikutuk tidak bisa menjadi bersatu walau termakan rindu. Lagu ini kemudian coba dikemas dengan nuansa ballad keroncong Jawa yang membawa kita pada sebuah romansa yang mengharukan. Mampu memikat hati sedulur jazz dengan kisah dalam lagu Surya Kembara, Everyday akan kembali meramaikan panggung Ngayogjazz 2013 tentunya dengan karya-karya mereka yang unik, segar, dan imajinatif.

Sedulur jazz satu ini, yang juga lahir dan tumbuh di Komunitas Jazz Jogja, berkolaborasi dengan Dagadu Djokdja untuk melahirkan sebuah album. Everyday sukses merilis album perdana mereka: A Beautiful Day pada Juli 2013 dengan single Kapan Ke Jogja Lagi. Lagu ini kemudian juga sudah bisa didengarkan di radio-radio nusantara. Aktif berkreasi, kemudian membuat sedulur jazz ini juga turut berkarya dalam album kompilasi Ngayogjazz 2013. Sedulur jazz ini mengaransemen ulang lagu U’N’I, sebuah komposisi bergaya Fusion/Jazz Rock/Phsychedelic, karya Miles Davis yang diambil dari album Star People (1983) untuk album kompilasi Ngayogjazz 2013.

Everyday (@TheEverydayBand) saat ini digawangi oleh: Riri (vocal), Itonk Wikantyoso (keyboard/synth/program), Gilang Adhiyaksa (piano/keyboard), HYP (bass), dan Anggrian Hida (drum). Jadi bagi sedulur jazz yang menjadi penggemar Everyday rasanya akan sangat disayangkan jika melewatkan penampilan mereka di Ngayogjazz 2013 kali ini. Seperti apakah kejutan yang akan dibawakan oleh Everyday di Ngayogjazz 2013? Saksikan penampilan mereka langsung di Sidoakur.

Keroncong Soesah Tidoer

 

SoesahTidoer-kolase

Berawal dari kepekaan Win Dwi Laksono mencium potensi beberapa pemuda yang sering nongkrong dan gitaran di pos ronda kampung Nitipuran Jogjakarta, bersemilah embrio SOESAH TIDOER. Saat itu tepatnya bulan Agustus tahun 1999.

SOESAH TIDOER telah menelurkan satu album dengan judul Baju Manusia. Album tersebut dirilis tahun 2004. Album kedua akan dirilis pada 2014 mendatang, sepuluh tahun setelah album pertama.

Di Ngayogjazz 2013 ini, SOESAH TIDOER akan digawangi oleh Win Dwi Laksono (cello, perkusi, vokal) Arif Suryawardhana (cuk, gitar akustik, perkusi, vokal), Parlo (cak, kendang, perkusi, vokal), Doni Riwayanto (gitar elektrik, perkusi, vokal), Yudha Sasmito (saxophone, flute, perkusi, vokal), dan Dhimas Baruna (bass dan vokal).

Meski para anggota SOESAH TIDOER berasal dari latar belakang yang beragam, ada satu hal penting yang menyatukan mereka yaitu spirit komunal sebagai masyarakat jawa, sebagai wong ndeso. Dalam kehidupan sehari-hari, spirit komunal muncul dalam bentuk Gotong Royong dan itu lah yang menjadi jiwa SOESAH TIDOER dalam mengkomposisi maupun mengaransemen karya-karya musiknya. Karya-karya SOESAH TIDOER lekat dengan aroma dua musik rakyat Indonesia; Keroncong dan Dangdut. Di sisi lain, karya mereka juga beraroma Rock, Jazz, Blues, dan lain sebagainya. Namun ujung dari semua ragam gaya itu akhirnya diikat oleh satu kata: ndeso. Hingga yang terdengar kemudian adalah Keroncong ndeso, Dangdut ndeso, Rock ndeso, Jazz ndeso, dan akhirnya, begitulah SOESAH TIDOER. Ndeso.

Bagus and Friends

Bagus

Bagus Adimas Prasetio (26), di usianya yang masih muda telah meraih sederet prestasi membanggakan sebagai seorang pianis jazz.

Menyandang disabilitas tidak membuat Bagus patah semangat. Sejak usia 6 tahun dia sudah mengenal musik. Selain itu, ia mengenal musik dari sekolahnya, Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB), yang memiliki fasilitas berbagai alat musik

Pada tahun 2001-2009, Bagus pernah menjadi murid Bubi Chen. Belajar di bawah pengawasan Bubi Chen ternyata berbuah manis bagi Bagus. Pada tahun 2010, Ia mendapatkan Rekor MURI untuk Resital Piano Tunggal Penyandang Tunanetra pertama di Indonesia. Di tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai The Best Keyboardist LA Light Jazz Fusion Music Competetion di Semarang. Perjalanannya terus berlanjut hingga menjadi salah satu finalis di ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2 di salah satu stasiun tv swasta.

Bagus juga tergabung dalam beberapa grup band seperti Mata Hati, C-Twosix Jazz Community, Base-20 Band, dan Soulvegio Jazz Band. Setelah tahun 2007 yang lalu Bagus pernah tampil di Ngayogjazz bersama Komunitas Mata Hati, tahun ini dia akan kembali bersama Bagus and Friends. Mari kita nantikan aksinya.

Sepotong Cerita dari Hijaunya Desa Wisata Sidoakur

Siang itu cukup terik, namun suasana di desa wisata Sidoakur yang terletak terasa begitu nyaman. Banyak sekali pepohonan rindang yang membuat jalanan di desa Sidoakur ini terasa teduh walau suhu hari itu bisa dikatakan cukup panas. Banyak orang-orang berlalu lalang, di beberapa rumah terlihat ada dua orang pria berumur 30an yang sedang mengerjakan produk furniture yang terbuat dari kayu. Banyak juga anak-anak kecil yang berlarian ditengah panasnya terik matahari.

Pandangan mata langsung tertuju pada setiap rumah yang setidaknya memiliki satu pohon atau bahkan lebih. Hal inilah yang kemudian membuat desa wisata Sidoakur ini tampak hijau. Selain pepohonan tampak juga banyak sayur-sayuran dan juga buah-buahan yang juga ditanam di halaman rumah warga. Semua tanaman ini ternyata dibudidayakan secara organik, tanpa menggunakan bahan kimia. Ada kesadaran dari warga desa Sidoakur untuk mengembangkan lingkungan hijau di desa ini.

Desa Sidoakur merupakan desa wisata yang letaknya berada di daerah Godean, Sleman, merupakan salah satu desa wisata yang memang mengembangkan pariwisata budaya dan lingkungan. Jadi tidak sekedar memperkenalkan budaya, tapi juga mengajarkan kesadaran akan lingkungan. Bagi yang ingin berkunjung tentu saja diajak untuk sadar akan lingkungan. Cara paling sederhana adalah dengan tidak membuang sampah sembarang. Hal ini juga dikarenakan desa Sidoakur merupakan salah satu desa wisata dengan pengelolaan bank sampah yang baik. Ada jadwal yang kemudian dilakukan oleh warga untuk melakukan pengelompokan dan pengolahan sampah setiap dua minggu sekali.

Selain itu juga, bagi yang doyan untuk memancing kemudian bisa pergi ke bagian barat desa Sidoakur. Terdapat kolam pemancingan yang dikelola oleh warga dan hasil tangkapannya pun kemudian bisa diolah dengan harga yang terjangkau. Bahkan bagi para pencinta jamu, bisa menemukan jamu tradisional seperti jahe, kunir asem, dan temulawak yang merupakan hasil dari industri jamu rumahan yang bisa dinikmati.

Selain pertanian dan perikanan organik serta industri rumahan, desa wisata Sidoakur ini juga memiliki aktivitas seni yang kemudian dikembangkan di desa ini. Ada macapatan yang diselenggarakan setiap malam rabu. Bagi yang ingin mendengarkan alunan suara gamelan, ada juga karawitan yang diadakan setiap malam kamis. Selain itu juga ada klotekan bambu dan hadrah yang biasa dimainkan pada hari besar keagamaan. Satu kesenian yang cukup unik adalah gejlog lesung. Biasanya gejlog lesung digunakan sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Jadi bagi yang rindu dengan suara hentakan lesung, yang biasa digunakan untuk menumbuk padi, kemudian bisa datang dan merasakan langsung di desa wisata Sidoakur. Masih banyak lagi kesenian yang bisa dinikmati di desa wisata ini.

Untuk akses ke desa wisata Sidoakur sendiri tidak cukup sulit. Bisa menggunakan kendaraan umum yang mengarah ke arah Godean atau pun dengan kendaraan pribadi. Jika ingin berjalan-jalan memutari desa ini pun anda tidak perlu khawatir jika tersesat. Ada peta informasi desa yang bisa diakses secara mudah di beberapa sudut desa. Jadi bagi yang ingin menikmati wisata hijau dan budaya tunggu apa lagi? Desa wisata Sidoakur ini jugalah yang akan menjadi lokasi untuk Ngayogjazz 2013. Jadi kita “sido ngejazz di Sidoakur”.

 

Penulis : Resa Setodewo dan Mas Agung Wilis Yudha Baskoro