Musik Jazz di asalnya Amerika muncul dari respon masyarakat strata bawah (baca: budak belian/negro) terhadap kondisi sosial saat itu, tekanan-tekanan kehidupan mereka saat itu memunculkan suatu kreativitas untuk mencurahkan perasaan dan menghibur diri mereka, sehinga muncul Musik Jazz. Pada awal perkembangannya Jazz selalu dekat dengan peristiwa-peristiwa sosial dan politik, dimana para pionir-pionir Jazz seperti Jelly Roll Morton, Louis Armstrong, Duke Ellington, Thelenious Monk, Charles Mingus sampai John Coltrane dan Miles Davis, selalu memunculkan gebrakan-gebrakan baru dalam musik jazz bedasarkan situasi sosial maupun politik saat itu, seperti munculnya Swing, Bebop, Cool Jazz sampai Free Jazz dan Jazz Rock. Dan uniknya walaupun musik jazz pertama munculnya dari strata bawah berhasil Musik Jazz pada saat itulah yang bisa menyatukan antara komunitas ras dan strata yang berbeda-beda di Amerika sana. Musik Jazz-pun menyebar ke seluruh dunia dan dibeberapa negara musik Jazz bisa menyesuaikan dengan atmosfir budaya setempat, sehingga muncul istilah-istilah European Jazz, Latin Jazz, Skandinavian Jazz, Indo-Jazz Fusion, dan lain-lain.
Lalu bagaimana perkembangan Jazz di Indonesia, Jazz di Indonesia menurut penulis Belanda Allard J.M. Moller sudah masuk sejak tahun 1922, itu berarti hampir bersamaan dengan era Swing Jazz, hanya memang di Indonesia pada saat itu jazz didatangkan untuk menghibur orang-orang asing yang masih menduduki bumi indonesia ini, tentunya dikemas dalam acara dan tempat yang elit, dan pada perkembangannya-pun akhirnya musik jazz di Indonesia banyak dipentaskan di hotel-hotel, bar-bar elit, café-café dan tempat-tempat sejenisnya, meskipun akhirnya musik jazz bisa juga diapresiasi dan ditonton masyarakat awam tapi kesan bahwa musik jazz adalah musik yang elitis dan sukar diapresiasi oleh masayarakat awam masih melekat sampai saat ini.
Berangkat dari kondisi inilah seorang musisi Djaduk Ferianto mempunyai kegelisahan untuk menghapus citra musik jazz yang elitis tersebut, bahwa jazz sebagai musik yang terbuka dan luwes bisa diapresiasi semua lapisan masyarakat dan dapat berbaur dengan kehidupan budaya setempat. Untuk menerjemahkan ide-idenya Djaduk bekerjasama dengan WartaJazz.com, HATTAKAWA -lingkage dan VINDRA/beyond the stages, akhirnya menggagas event jazz yang berbentuk sebuah interaksi sosial. Dalam event ini musik jazz tetap sebagai focus of interest tetapi tidak akan sekedar menjadi sebuah pertunjukan, melainkan akan menjadi permainan bersama. Musik jazz akan dimainkan ditengah-tengah kegiatan masyarakatdengan segala respon dan apresiasinya, baik sekedar bertepuk, berteriak, melontarkan komentar maupun bergabung langsung untuk ikut bermain. Karena beberapa panggung akan menggunakan format open jam session.
Kegiatan masyarakat akan diwakili dengan kegiatan bazar hasil kreasi seni, kegiatan merti desa dan pertunjukan kesenian tradicional desa setempat.
Event berlabel NGAYOGJAZZ (diambil darti kata Ngayogyakarta) ini akan menggunakan venue Padepokan Seni Bagong Kussudiarja yang selain lokasinya sudah dikenal hingga tingkat internasional, arealnya terbuka dan telah terbiasa berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dengan konsep diatas maka jarak antara pemain dan penonton tidak lagi kentara, sehingga diharapkan benar-benar akan mengikis anggapan selama ini bahwa musik jazz adalah musik yang “elitis” dan tidak terjangkau apresiasi masyarakat awam, justru di event ini akan ditunjukan bahwa musik Jazz adalah sangat terbuka sekali dan bisa dinikmati oleh siapapun dan bisa dipadukan dengan jenis musik apapun maupun seni yang lain. NgayogJazz akan menampilkan Komunitas Jazz Yogyakarta dengan grup-grup antara lain : Travels, Living Room, Caravan, Gudeg Jogja dan Setia Kawan, menampilkan juga bintang tamu musisi jazz nasional, Syaharani dan Trie Utami dan juga komunitas-komunitas dan musisi-musisi jazz dari berbagai kota akan hadir untuk bermain dan berjam sesion.
Selain itu juga akan dimeriahkan dengan seni-seni tradisi, seperti jathilan, angguk dan musik dari Sujud Kendhang. Semua penampil ini nanti diharapkan akan saling merespon satu sama lain sehingga suasana kemeriahan akan terbentuk. Di tempat pertunjukan juga akan digelas Bazar dengan segala macam produk, baik berupa barang maupun jasa, antara lain penjulan CD, makanan tradisional, merchandise, kerajinan, alat-alat musik dll.
NGAYOGJAZZ akan lebih sebagai sebuah perhelatan komunitas yang terbuka untuk umum dibanding sebagai sebuah event pertunjukan, dan tanpa ada pungutan tanda masuk. Perhelatan ini akan dimulai sejak siang hari hingga malam pada Hari Minggu, 4 November 2007.
Bila format event NGAYOGJAZZ ini mendapatkan respon positif dari para pencinta music jazz dan masyarakat umum, maka Djaduk akan memproyeksikan bagi kesinambungan event yang demikian untuk kemudian diorientasikan sebagai event internasional.