ngayogjazz.com

Jazz in Ngayogyakarto

paring-paring foto

November26

Saksampunipun nyuwun paring-paring arta, sakmenika titi wancinipun Ngayogjazz nyuwun paringipun foto.
Setelah mengemis uang, kini saatnya NgayogJazz mengemis kontribusi foto.

Tukang Saring Foto: Dwi Oblo dan Edial Rusli.

Tukang Ladennya Tukang Saring Foto : Hattakawa.

Bagi foto yang dimuat akan diberikan hadiah berupa tiket terusan NgayogJazz seumur hidup untuk 5000 orang.

posted under News | 6 Comments »

njajazz desa milang kori ….

November21

Memainkan musik jazz dengan simpel dan spontan di tengah-tengah interaksi sosial masyarakat, di tengah-tengah pemukiman dan di sela-sela penduduk berkegiatan sehari-hari. Selain pemusik dan penyanyi, akan ikut andil dalam permainan ini warga setempat dengan kesenian tradisinya, serta hadirin yang secara konvensional disebut penonton. Pasar Jazz sebagai sebuah kegiatan keramaian juga akan melengkapi event ini. Ngayogjazz mengundang kita semua untuk bermain musik jazz.

posted under News | No Comments »

ngayogjazz 2008

November21

Memainkan musik jazz dengan simpel dan spontan di tengah-tengah interaksi sosial masyarakat, di tengah-tengah pemukiman dan di sela-sela penduduk berkegiatan sehari-hari. Begitulah konsep yang diusung Ngayogjazz yang digagas sejak 2006, pertama digelar pada 2007 dan akan digelar lagi tahun 2008 ini. Semua orang yang hadir akan dilibatkan dalam berbagai permainan jazz yang cair dan penuh improvisasi. Banyak permainan yang tak terduga akibat interaksi antar pemain alat musik maupun dengan “pemain-pemain” yang secara konvensional disebut penonton. Kejadian begini terjadi ketika permainan musik jazz muncul di benua Amerika. Jazz memang tidak muncul berupa pertunjukan, tetapi berupa permainan bersama.

Ngayogjazz mengundang untuk bermain, tidak sekedar menonton. Mr. Warwick, warga asal Australia yang memproduksi kerajinan tangan dengan warga Desa Tembi, sebuah desa yang asri di Bantul Yogyakarta, akan menjadi tuan rumah kali ini. Dengan konsepnya dan pemakaian venue sebuah desa aseli Bantul ini membuat Ngayogjazz menjadi festival jazz yang unik dibanding festival jazz yang pernah ada. Permainan akan digelar di lima titik penjuru desa Tembi yang bisa dinikmati secara berurutan sambil menikmati kesejukan alam pedesaan. Ini memang perwujudan dari tagline Ngayogjazz 2008 yang berbunyi : Nja-Jazz Desa Milang Kori, pelesetan dari peribahasa jawa “Njajah desa milang kori”, yang berarti pengembaraan ke berbagai tempat atau silaturahmi dari desa ke desa.

Para seniman musik ternama akan hadir menyemarakkan permainan. Mereka antara lain Maya Hasan, Nyong Anggoman, Eliana Dewi, Koko Harsoe & friends (Bali), Zeva (Bandung), Komunitas Mata Hati (Surabaya), Living Room (Jogja) dan Das Smoothly (Jogja) serta pelanggan tetap NgayogJazz, siapa lagi kalau bukan Trie Utami dan Iga Mawarni. Sayang sekali, Syaharani yang sudah antusias ikut bermain harus mengalah dengan manajemen waktunya untuk kegiatan lain.
Warga Desa Tembi tentu saja tak ketinggalan. Di sela-sela kegiatan mereka bertani, berkerajinan dan berdagang. mereka akan menimpali Ngayogjazz 2008 ini dengan berbagai kesenian tradisional seperti gejog lesung, hadrah dan cokekan. Warga Desa Tembi juga akan membuka pasar tiban yang diberi nama Pasar Jazz yang menyediakan berbagai masakan desa dan mengundang beberapa penjaja souvenir khas Jogja untuk mengasyikkan pasar.

Event yang digagas dan disuguhkan oleh sang penggemas (tidak salah ketik) berbagai alat musik, Djaduk Ferianto bersama KUA ETNIKA, WARTAJAZZ.COM, Paningron, NoVindra/beyond the stage, Hattakawa –lingkage, dan enCikpeaCe&seCure ini juga menyediakan bingkisan kepada 2000 hadirin pertama pada gelaran yang selalu bisa dihadiri dengan gratis ini.

Desa Tembi yang asri, warga yang ramah, jazz yang kita mainkan dengan asyik, pasar yang seru, para pemusik piawai, semua menanti kita pada Hari Minggu, 23 November 2008, mulai jam 14 siang hingga tengah malam.

posted under News | No Comments »

tembi yang ramah dan asyik

November21

Pranatan AdiCARA
Langsung seru sejak jam 14.30

14.30 - 16.00 Panggung Ting Clebung
- MC : Lusy Laksita & Dibyo Primus

Djimbe Merdeka & Golek Gung
Pembukaan , Gejok Lesung
Yovia
Zefa & Aldint Community

17.00 - 17.30 Panggung Sak Munine
Cokekan

18.00 - 19.00 Panggung Kothekan
- MC : Hendro Pleret

Jam session
Bang Bung

19.00 - 21.00 Panggung Klonengan
-MC : Maya, Aldo Iwak Kebo, Sugeng Iwak Bandeng

Komunitas Mata Hati
Bagus & Alldint Community
Notturno feat. Eliana Dewi
Hadrah

21.00 - 22.30 Panggung Nggandem
-MC : Lusy Laksita & Anang Batas
Das Smoothly & Iga Mawarni
Koko Harso Feat. Maya Hasan
Living Room & Trie Utami

Tetap seru sampai Ngayogjazz tahun berikutnya …

posted under News | No Comments »

ngayogjazz

November21

Musik Jazz di tempat asalnya, Amerika, muncul dari respon masyarakat strata bawah (baca: budak belian negro) terhadap kondisi sosial saat itu, tekanan-tekanan kehidupan mereka saat itu memunculkan suatu kreativitas untuk mencurahkan perasaan dan menghibur diri mereka, sehinga muncul Musik Jazz. Pada awal perkembangannya Jazz selalu dekat dengan peristiwa-peristiwa sosial dan politik, dimana para pionir-pionir Jazz seperti

Jelly Roll Morton, Louis Armstrong, Duke Ellington, Thelenios Monk, Charles Mingus sampai John Coltrane dan Miles Davis, selalu memunculkan gebrakan-gebrakan baru dalam musik jazz bedasarkan situasi sosial maupun politik saat itu, seperti munculnya Swing, Bebop, Cool Jazz sampai Free Jazz dan Jazz Rock. Uniknya Musik Jazz pada saat itulah yang bisa menyatukan antara komunitas ras dan strata yang berbeda-beda di Amerika sana. Musik Jazz-pun menyebar ke seluruh dunia. Di beberapa negara musik Jazz bisa menyesuaikan dengan atmosfir budaya setempat, sehingga muncul istilah-istilah European Jazz, Latin Jazz, Skandinavian Jazz, Indo-Jazz Fusion, dan lain-lain.

Bagaimana perkembangan Jazz di Indonesia ?

Jazz di Indonesia, menurut penulis Belanda Allard J.M. Moller, sudah masuk sejak tahun 1922, berarti hampir bersamaan dengan era Swing Jazz. Jazz yang didatangkan ke Indonesia untuk menghibur orang-orang asing yang masih menduduki bumi indonesia ini, tentunya dikemas dalam acara dan tempat yang elit, dan pada perkembangannya-pun akhirnya musik jazz di Indonesia banyak dipentaskan di hotel-hotel, bar-bar, café-café dan tempat-tempat sejenisnya. Meskipun akhirnya musik jazz bisa juga diapresiasi dan ditonton masyarakat awam tapi kesan bahwa musik jazz adalah musik yang elitis dan sukar diapresiasi oleh masyarakat awam masih melekat sampai saat ini.

Berangkat dari kondisi inilah seorang musisi Djaduk Ferianto mempunyai kegelisahan untuk menghapus citra musik jazz yang hanya elitis tersebut. Dia berkeyakinan, bahwa jazz sebagai musik yang terbuka dan luwes bisa diapresiasi semua lapisan masyarakat dan dapat berbaur dengan kehidupan budaya setempat. Dengan mengajak kerjasama dengan WartaJazz, Hattakawa -linkage dan Novindra –beyond the stages, akhirnya Djaduk Ferianto sepakat menelurkan gagasan event jazz festival dengan diberi nama Ngayogjazz. NGAYOGJAZZ dikonsep sebagai sebuah event interaksi sosial yang menggunakan media permainan musik jazz. Karena bukan sekedar pertunjukan, NGAYOGJAZZ akan menghilangkan semaksimal mungkin jarak antara pemain di panggung dengan publik penonton, sehingga akan benar-benar terwujud interaksi dalam bentuk performance dengan apresiasi spontan. Di event ini musik Jazz juga dipadukan dengan seni musik maupun pertunjukan seni dari tradisi masyarakat setempat dan bersifat “open jam session”. Kemasan demikian menjadikan Ngayogjazz menjadi sebuah festival jazz dalam format unik dibanding festival jazz yang pernah ada.

Hal ini adalah sebuah pilihan cara memainkan dan menikmati musik jazz yang lebih egaliter dan terjangkau oleh apresiasi masyarakat awam. Ngayogjazz akan pula berupaya untuk menunjukan bahwa musik Jazz adalah sangat terbuka dan bisa dinikmati oleh siapapun dan bisa dipadukan dengan jenis musik apapun maupun seni yang lain.

posted under News | No Comments »