Tidak dapat dipungkiri ada tradisi bermusik yang kuat dalam kafilah kaum gipsi sejak dahulu. Selama perjalanan panjang, baik mencakup waktu dan tempat, mereka menyerap berbagai pengaruh dan akar musik yang membentang dari India sampai Inggris. Gaya khasnya adalah vokal yang cenderung penuh penjiwaan dan dengan lantang menyatakan suatu ekpresi. Di masa modern pun mereka mudah menyelaraskan dengan perkembangan musik yang ada. Termasuk dengan musik jazz.
Sebaliknya, dalam sejarah musik jazz pun pernah dikenal adanya seorang pemain gitar jazz legendaris di era 1930an yang juga keturunan gipsi, yaitu Django Reinhardt. Uniknya, tidak saja hanya sekedar mewakili orang gipsi yang bermain jazz. Namun pengaruh Django Reinhardt sangat kuat dan mempunyai karakter yang khas. Dia mampu meramu dengan indah tradisi musik gipsi ke dalam improvisasi jazz.
Saat ini, banyak musisi keturunan gipsi yang bermain musik jazz. Salah satunya adalah Harri Stojka. Gitaris keturunan gipsi-Rumania kelahiran Wina Austria tahun 1957 ini memang sejak kecil sudah didorong ayahnya untuk bermain musik dengan membelikannya sebuah gitar. Ayahnya menyuruhnya latihan terus menerus sampai keluar asapnya. Pada awalnya dia belajar musik klasik dan flamenko.
Seperti halnya sejarah kaum gipsi sendiri, Stojka tidak menutup pintu akan pengaruh luar. Beatles pernah menjadi favoritnya, terutama terhadap George Harrison. Karier profesionalnya mulai tahun 1970 dan tiga tahun kemudian membentuk band pertamanya, Harri Stojka Express. “Saya memainkan berbagai jenis musik yang sedang berkembang. Dari fusion, jazz, rock, blues bahkan heavy metal”, ujar Stojka. Sampai suatu ketika mendengar Django Reinhardt di sebuah radio. “Saya langsung terpesona dengan teknis, feeling dan sound-nya yang luar biasa”. Selain itu, pengaruh yang kuat terasa juga berasal dari gitaris George Benson, Pat Martino dan Joe Pass.
Salah satu album Stojka yang paling mengesankan adalah “A Tribute to Gipsy Swing” tahun 2006. Album ini mengingatkan kembali kedekatan tradisi musik gipsi dengan jazz. Di mana dia mampu membakar tangkai gitar dengan mengkombinasikan kekuatan, kecepatan, keahlian dan penjiwaan yang dikemas menjadi satu paket istimewa. Sementara penampilannya dalam ajan Ngayogjazz Bantul 2009 ini Stojka didampingi oleh sahabat lamanya yang sesama gitaris Claudius Jelinek.








