
Lebih banyak pecinta musik jazz mengenalnya melalui group jazz terkemuka dari Indonesia, Krakatau. Krakatau, sebuah group jazz modern yang dibentuknya bersama Pra B. Dharma sekaligus juga membesarkan namanya sejak 1984 ini menjadi salah satu band jazz unggulan para pecinta musik jazz. Sejumlah musisi jazz Indonesia pilihan pun pernah menjadi pendukungnya. Sebut saja Ruth Sahanaya, Donny Suhendra, Budhy Haryono, Trie Utami, Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan.
Perjalanan Krakatau pun penuh warna. Fase pertama, mereka beranjak dari salah satu kontestan Yamaha Light Music Contest, yang dulu lebih dikenal dengan LMC, dan Dwiki sendiri memenangkan penghargaan Outstanding Keyboard Player dalam acara puncak LMC di Tokyo pada tahun 1985. Atas keberhasilan tersebut, Krakatau dengan percaya diri mengeluarkan album pertamanya, ”Gemilang” (1986), ”La Samba Primadona (1988) di mana kedua album ini juga sering disebut sebagai ”First Album” dan ”Second Album”. Selanjutnya hadir album ”Kembali Satu” (1989) dan ”Let There Be Life” (1992). Dalam fase ini mereka masih sedikit banyak memasukkan unsur musik pop dan bermain dalam warna jazz rock.
Namun perjalanan setelah itu, Krakatau mengalami semacam metamorfosa ke dalam sebuah kelompok band jazz yang tampil lebih dewasa, terutama dalam menyikapi arah estetis ke depan. Dengan kenyataan bahwa mereka tetap menjadi orang Indonesia yang mempunyai latar belakang kultural yang kaya termasuk dalam hal tradisi musik. Seolah ada pencerahan untuk melihat kembali dan bereksplorasi dengan keanekaragaman tradisi musik Indonesia yang dipadukan dengan kecintaan mereka terhadap musik jazz. Formasinya berubah total. Kali ini mereka juga mengedepankan beberapa musisi tradisional masuk ke jajaran line up utama (Adhe Rudyana, Yoyon Dharsono dan Zaenal Arifin) dengan beberapa anggota lamanya yang keluar. Belakangan Garry Herb dan Ubiet masuk. Empat album dalam fase kedua ini, antara lain adalah “Mystical Mist” (1994), “Magical Match” (2000), “Rhythm Of Reformation (2006) dan “2 Worlds” (2006). Peran Dwiki dan Pra dalam perubahan warna ini sangat vital. Justru dengan warna ini Krakatau merambah ke dalam pengakuan publik pecinta jazz di kancah internasional. Belum lama ini Krakatau juga sempat mengadakan konser ulang tahunnya yang ke-25.
Di samping kesibukannya bersama Krakatau, Dwiki juga sempat menggarap album solonya seperti “Di Antara Harapan” (1991), “Nuansa” (2002) dan paling spektakuler adalah “World Peace Orchestra” (2009). Barisan musisi dunia yang turut terlibat album “Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra” adalah Jimmy Haslip (bass), Russel Ferrante (piano), Walfredo Reyes Jr. (drum & perkusi), Tollak Olstad (harmonika), Roger Burn (marimba/vibes), Andy Suzuki (reeds) dan Rich Breen yang akan bertindak sebagai penata suara. Sementara, musisi asal New York yang kini bermukim di Malaysia, Steve Thornton (perkusi) dan drummer terbaik Asia, Lewis Pragasam, ikut berpartisipasi menambahkan kekayaan warna musik aransemen Dwiki ini. Rekamannya dilakukan di Los Angeles Amerika Serikat.
Di luar itu semua, pria kelahiran Bandung tahun 1966 ini pun masih menyempatkan untuk aktif ke dalam dunia pendidikan melalui Lembaga Pendidikan Musik Farabi, terjun ke dunia sosial atau pun aktif membuat jaringan dengan para musisi bertaraf internasional.








