A+ | A-
 

Archive | Ngayogjazz-2009

Ngayogjazz 2009

Posted on 26 October 2010 by wawan

Tradisi Baru
Ngayogjazz yang diangankan untuk menjadi sebuah peristiwa budaya akan terus mengalami upayanya. Dalam dinamika kebudayaan akan ada nilai-nilai yang masih dianggap aktual untuk diyakini dan diaktualisasikan dalam tradisi-tradisi. Ada nilai-nilai yang tak lagi dianggap relevan dan ada pula nilai-nilai baru yang memunculkan tradisi-tradisi baru.

Ngayogjazz adalah sebuah tradisi baru, yang digagas sejak 2006 dan pertama kali diselenggarakan 2007; paling tidak sebuah tradisi baru dalam memainkan musik jazz.

Ngayogjazz dan Bantul, Java Today
Ngayogjazz akan semakin akrab dengan masyarakat Bantul, karena untuk ketiga kalinya akan diselenggarakan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogakarta (Ngayogyakarta),  sebuah wilayah yang merupakan bagian dari Jawa. Budaya masyarakat Bantul pun berakar pada kebudayaan Jawa (Mataram), dengan dinamikanya yang cukup ideal. Nilai-nilai akar budaya masih relatif banyak yang diyakini, sekaligus begitu terbukanya orang-orang Bantul dengan nilai-nilai baru dan akrab dengan tradisi-tradisi baru yang mereka ciptakan sendiri sebagai respon atas perjalanan zaman. Wong Bantul begitu dinamis dalam berinteraksi budaya, sehingga jadi tidak berlebihan bila ada ungkapan spontan : Bantul, Java today. Dalam dinamika budaya wong Bantul, Ngayogjazz sekadar sebuah alternatif ruang berinteraksi. Wujudnya bisa terlihat pada beberapa kolaborasi kesenian tradisional Bantul dengan tradisi jazz, sebagai sebuah tradisi bermusik, yang memang dipertemukan oleh peristiwa Ngayogjazz.

Orang-orang yang “berkumpul” sebagai publik Ngayogjazz, baik yang hadir di tempat kegiatan sebagai pelaku kesenian atau sekadar berkontribusi spontan, atau yang sekadar saling meresponnya dari kejauhan melalui berbagai media, telah melakukan peristiwa kebudayaan dan interaksi budaya di Ngayogjazz. Laiknya sebuah interaksi, akan terjadi saling memberi pengertian, penerimaan nilai-nilai, penolakan maupun kompromi-kompromi yang melahirkan setidaknya wawasan baru, pengertian baru atau bahkan nilai-nilai baru dan tradisi baru. Ngayogjazz yang dikemas sebagai sebuah permainan jazz bersama,  sesuai interpretasi masing-masing pelakunya, diharapkan benar-benar dapat menghadirkan spirit jazz yang semisal aselinya ketika muncul di tempat asalnya. Sebuah tradisi jazz yang tidak sekadar meniru, tapi berupa improvisasi-improvisasi yang timbul akibat interaksi antar nilai dan antar tradisi.

Jer Basuki Mawa Beya
Dalam dinamika budaya memang ada bayaran material dan non-material yang harus dialokasikan. Biaya non-material bisa berupa kebersediaan menerima tradisi dan nilai baru; meluangkan untuk mencoba menikmatinya; atau berupa apa saja yang bersifat kompromis yang bermotivasi menambah kualitas manusia pelakunya. Tak ada yang gratis dalam tiap upaya dan dinamika. Jer basuki  mawa beya.

Inspirasi Untuk Lingkungan
Ngayogjazz Bantul 2009 pada dasarnya adalah sajian atas berbagai produk kreatif, baik yang berupa permainan-permainan instrumen musik individual atau berkelompok, kesenian tradisonal yang berkolaborasi ataupun yang mengiringi, maupun produk-produk barang kreatif yang disajikan oleh para pengrajin dalam stand-stand di Pasar Jazz. Semua unsur kreatif itu pun kemudian dikemas dengan suatu kreatifitas dalam sebuah sajian event. Kami berharap, Ngayogjazz Bantul 2009 paling tidak bisa memberikan tambahan keragaman produk kreatif di Kabupaten Bantul, atau bahkan lebih jauh lagi, segala unsur kreatif dan proses kreatif Ngayogjazz Bantul 2009 bisa memberikan inspirasi bagi kreatifitas masyarakat maupun inspirasi bagi industri kreatif di lingkungan yang lebih luas.

Selain itu, mudah-mudahan Ngayogjazz juga bermanfaat bagi terbangunnya masyarakat pendukung kesenian.

Comments Off

BassGrOoVe100

BassGrOoVe100

Posted on 18 November 2009 by

Meski akhir-akhir ini isu hubungan kultural antara Indonesia dan Malaysia sempat memanas, namun bagi Ngayogjazz Bantul 2009 bukanlah menjadi penghalang untuk mengundang salah satu kelompok jazz terkenal dari Malaysia, BassGrOoVe100.

Personil band yang didirikan di awal 2008 ini terdiri dari Albert Yap (bass), Leonard Yeap (keyboards), Tom Anuar (drum), Ihzwan Omar (gitar) dan Eddie Kismilardy (sax). Di Indonesia BassGrOoVe100 belum dikenal secara luas, namun nama ini cukup familiar dalam beberapa kancah festival jazz di negeri kita. Sebut saja Malacca Strait Jazz Festival 2008 di Riau dan JakJazz 2008.

Mereka bersatu membentuk group dengan tujuan dan komitmen yang sama yaitu berekspresi melalui musik dengan bebas. Sedangkan masing-masing musisi mempunyai potensi hebat dalam membuat komposisi. Sehingga BassGrOoVe100 mampu dengan leluasa menyatukan warna jazz, fusion, rock, funk sampai sedikit banyak memasukkan pengaruh etnis. Pada dasarnya, group yang berasal dari Kuala Lumpur ini sangat bergairah dalam membangun kreasi musik yang didukung dengan pengalaman dan pengaruh dari masing-masing musisi.

Dalam album pertamanya, “..Blend To Grove!!”, mereka menampilkan fleksibelitas yang unik. Mereka yakin kalau musik bisa menjadi kekuatan pemersatu. Musik dapat membantu menghilangkan berbagai penghalang perbedaan bahasa dan ras ketika memasuki cakrawala yang lebih luas. Pencapaian tertinggi bagi mereka adalah mampu memproduksi dan memainkan karya-karya mereka sendiri serta saling menghormati satu sama lainnya.

Comments (0)

Gitaris gipsy Harry Stojka terbang ke Ngayogjazz dari Austria

Posted on 02 October 2009 by

Gitaris kelahiran Wina Austria 1957 keturunan gipsi-Roma, Harri Stojka, akan menjadi salah satu penampil unggulan Ngayogjazz 2009 yang akan digelar 20-21 November 2009 mendatang.

Penyuka Beatles ini akan datang bersama rombongan pada tanggal 18 November dengan transit melalui airport Soekarno-Hatta Cengkareng sebelum bertolak menuju kota gudeg keesokan harinya, demikian info teranyar yang didapatkan redaksi WartaJazz.com lewat media centre Ngayogjazz di Munggur 50 Yogyakarta.

Bagi Stojka, jazz berawal dari gaya bebop. Ia mengagumi karya Charlie Parker dengan mendengarkan albumnya tiada henti. Inspirasi lain datang juga dari gitaris jazz semacam George Benson, Joe Pass, Karl Ratzer dan tentu saja diatas segalanya Django Reinhardt.

Album Stojka terakhir dirilis tahun ini 2009 ini dengan judul ”In Between”, yang merupakan kombinasi gipsi jazz klasik dengan musik elektronik. Berikut ini daftar lengkap diskografinya.

* Harri Stojka Express / Sweet Vienna (1978)
* Harri Stojka Express / Off The Bone (1980)
* Harri Stojka / Live In Montreux (1981)
* Harri Stojka Express / Camera (1981)
* Harri Stojka Express / Tight (1982)
* Harri Stojka Express / Brother to Brother (1985)
* Harri Stojka Express / Live (1987) (1998 auf CD erschienen) Harri Stojka Express / Live (released 1987) (1998 CD)
* Harri Stojka / Say Yes (1985) Harri Stojka / Say Yes (1985)
* Gon Shanel (2000) Gon Shanel (2000)
* Gitancoeur (2000) Gitancoeur (2000)
* Harri Stojka & Gitancoeur unplugged (2002) Harri Stojka Gitancoeur & unplugged (2002)
* Live at the Roma Wedding (2004) Live At The Roma Wedding (2004)
* A Tribute To Swing (2005) A Tribute To Swing (2005)
* Harri Stojka gipsysoul – Garude Apsa (2005) Harri Stojka gipsy soul – Garude Apsa (2005)
* Stoika & Stojka – Just another City (2008) Stoika & Stojka – Just Another City (2008)

Stojka dijadwalkan memberikan workshop jazz pada hari Jumat, 20 November 2009. Informasi lebih lanjut mengenai program Stojka di Ngayogjazz, dapat menghubungi 0274-512561.

Source: WartaJazz.com

Comments (0)

News Update 2009 nyoba Sesuatu web ngayogjazz yang baru.

Posted on 02 October 2009 by

Memainkan musik jazz dengan simpel dan spontan di tengah-tengah interaksi sosial masyarakat, di tengah-tengah pemukiman dan di sela-sela penduduk berkegiatan sehari-hari. Selain pemusik dan penyanyi, akan ikut andil dalam permainan ini warga setempat dengan kesenian tradisinya, serta hadirin yang secara konvensional disebut penonton. Pasar Jazz sebagai sebuah kegiatan keramaian juga akan melengkapi event ini. Ngayogjazz mengundang kita semua untuk bermain musik jazz.

Comments (2)

Harri Stojka: Antara Gipsi dan Swing

Harri Stojka: Antara Gipsi dan Swing

Posted on 01 October 2009 by

Tidak dapat dipungkiri ada tradisi bermusik yang kuat dalam kafilah kaum gipsi sejak dahulu. Selama perjalanan panjang, baik mencakup waktu dan tempat, mereka menyerap berbagai pengaruh dan akar musik yang membentang dari India sampai Inggris. Gaya khasnya adalah vokal yang cenderung penuh penjiwaan dan dengan lantang menyatakan suatu ekpresi. Di masa modern pun mereka mudah menyelaraskan dengan perkembangan musik yang ada. Termasuk dengan musik jazz.

Sebaliknya, dalam sejarah musik jazz pun pernah dikenal adanya seorang pemain gitar jazz legendaris di era 1930an yang juga keturunan gipsi, yaitu Django Reinhardt. Uniknya, tidak saja hanya sekedar mewakili orang gipsi yang bermain jazz. Namun pengaruh Django Reinhardt sangat kuat dan mempunyai karakter yang khas. Dia mampu meramu dengan indah tradisi musik gipsi ke dalam improvisasi jazz.

Saat ini, banyak musisi keturunan gipsi yang bermain musik jazz. Salah satunya adalah Harri Stojka. Gitaris keturunan gipsi-Rumania kelahiran Wina Austria tahun 1957 ini memang sejak kecil sudah didorong ayahnya untuk bermain musik dengan membelikannya sebuah gitar. Ayahnya menyuruhnya latihan terus menerus sampai keluar asapnya. Pada awalnya dia belajar musik klasik dan flamenko.

Seperti halnya sejarah kaum gipsi sendiri, Stojka tidak menutup pintu akan pengaruh luar. Beatles pernah menjadi favoritnya, terutama terhadap George Harrison. Karier profesionalnya mulai tahun 1970 dan tiga tahun kemudian membentuk band pertamanya, Harri Stojka Express. “Saya memainkan berbagai jenis musik yang sedang berkembang. Dari fusion, jazz, rock, blues bahkan heavy metal”, ujar Stojka. Sampai suatu ketika mendengar Django Reinhardt di sebuah radio. “Saya langsung terpesona dengan teknis, feeling dan sound-nya yang luar biasa”. Selain itu, pengaruh yang kuat terasa juga berasal dari gitaris George Benson, Pat Martino dan Joe Pass.

Salah satu album Stojka yang paling mengesankan adalah “A Tribute to Gipsy Swing” tahun 2006. Album ini mengingatkan kembali kedekatan tradisi musik gipsi dengan jazz. Di mana dia mampu membakar tangkai gitar dengan mengkombinasikan kekuatan, kecepatan, keahlian dan penjiwaan yang dikemas menjadi satu paket istimewa. Sementara penampilannya dalam ajan Ngayogjazz Bantul 2009 ini Stojka didampingi oleh sahabat lamanya yang sesama gitaris Claudius Jelinek.

Comments Off

Philosophy – Bintang Indrianto – Arief Setiadi – Gerry Herb Siwalette

Philosophy – Bintang Indrianto – Arief Setiadi – Gerry Herb Siwalette

Posted on 01 October 2009 by

Trio ini bukanlah kumpulan para filosof yang lagi memikirkan bagaimana makna kehidupan ini. Tapi mereka adalah tiga musisi jazz kampium dari Indonesia yang terdiri dari Bintang Indrianto (bass), Arief Setiadi (saxophone) dan Garry Herb (drum). Rekaman mereka bertiga ini didokumentasikan dalam album “Philosophy” yang dikeluarkan pada bulan Maret 2009 lalu.

Kesamaannya adalah mereka berbicara tentang kehidupan sehari-hari namun melalui sarana musik. Meski melalui musik, mereka tetap saja mencoba bereksplorasi dengan ide-ide sederhana yang berasal dari berbagai kejadian hidup sehari-hari. Bintang Indrianto melihat dan mendengar keberagaman perilaku orang-orang yang tentunya dilandasi dengan pandangan hidup dan filosofi masing-masing orang. Kesemuanya menjadi inspirasi bagi 10 komposisi yang ada dalam album “Philosophy” ini.

Dari segi formasi trio ini di Indonesia cukup langka, kalau tidak dikatakan untuk pertamakalinya. Biasanya formasi trio berkisar dengan piano-bass-drum atau terdapat instrumen yang berlaku sebagai tulang punggung di wilayah harmoni. Formasi saxophone-bass-drum ini kalau dilihat dari masalah kekompakan harmonisasinya dikenal lebih menantang dan sulit. Mengingat instrumen yang ada hanya berfungsi sebagai melodi dan ryhthm saja. Pasangan Bintang dan Arief sudah sering berkolaberasi seperti dalam album “Jazzybass” (2001) dan “Jazzysax” (2003) atau pun penampilan mereka di panggung dan studio. Sehingga keakraban komunikasi mereka bisa terjalin sampai ketika bermain musik. Garry Herb sendiri sering membantu kelompok Krakatau

Musiknya sendiri, meski relatif “berat”, penampilan mereka layak disimak lebih mendalam. Logika fungsi masing-masing instrumen bagi mereka bisa terkesan elastis. Instrumen ryhthm bisa melakukan tugas lain, seperti fungsi harmoni atau melodinya malah terkesan kabur. Namun semuanya menyatu dalam sebuah percakapan musikal yang menantang.

Comments Off

David Manuhutu

David Manuhutu

Posted on 01 October 2009 by

Comments Off

Syaharani & ESQI:EF feat Donny Suhendra

Syaharani & ESQI:EF feat Donny Suhendra

Posted on 01 October 2009 by

saharani_foto

Music – Life Music – Lifestyle – Jazzy – Power Pop – Lounge – Dance

Cuplikan di atas diambil dari info jejaring sosial dunia maya facebook akun milik Syaharani and the Queenfirewoks yang barangkali sedikit banyak membantu menggambarkan konsep musik yang mereka sajikan.

Syaharani and the Queenfireworks dibentuk pada tahun 2006 sebagai proyek musikal yang sengaja dibuat agar lebih akrab dengan banyak pendengar dan segar. Formasi ini juga untuk memberi warna lain dengan beberapa album Syaharani sebelumnya yang cenderung menonjol unsur jazznya. Bersama formasi Queenfireworks, Syaharani tidak berbicara sebagai penyanyi jazz semata, namun lebih mencakup seni musik secara keseluruhan.

Beberapa media menyebut warna Syaharani and the Queenfireworks dengan istilah trendy, crossover. Istilah ini sering digunakan untuk memberi label kepada sebuah karya atau musisi yang memainkan warna musik yang beragam dalam waktu bersamaan. Baik beragam dalam selera musik maupun jenis musik. Ada warna warni irama pop, soul, jazzy groove, blues, rock n roll dan bahkan disko, tekno atau pun musik elektronis. Dalam hal ini esqi:ef, begitu sapaan baru untuk Syaharani and the Queenfireworks ini, berupaya untuk mengaburkan batasan imaginer dalam bermusik

Selain itu, konsep tersebut juga dirasa mampu menjembatani pendengar yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Dari penggemar musik pop, jazz, lounge, chill-out, clubbers hingga para eksekutif muda. Tidak menutup kemungkinan juga kalau adik-adik SMA enjoy dengan suguhan dari kelompok yang dimotori oleh cewek kelahiran Malang tahun 1971 ini. Semuanya menyatu dalam lirik dan lagu yang menjadi kekuatan dalam menyikapi segala rasa dalam kehidupan dalam satu harmoni.

Syaharani sendiri adalah seorang entertainer profesional, merilis 3 solo album jazzy dan satu pop trip-hop (Magma) 2001, mewakili Indonesia di North Sea Jazz festival 2001. Pernah tampil bersama Al Jarreau, Dave Koz, Keith Martin, Yellow Jackets dan Fourplay. Sebagai aktris dalam teater musikal Madame Dasima, Galery of Kisses di TIM Jakarta, film Garasi / produksi Miles Film. Serta membuat theme song dan vocal illustrator film “Betina” produksi 9 Palm Films (pemenang NETPAC Award Festival Film Asia 2006). Selain Syaharani, esqi:ef didukung juga oleh Ahmad Fareed atau yang lebih akrab dipanggil Didit. Dia memainkan beberapa jenis instrumen (gitar, bass, drum dan keyboard). Salah satu pendiri Plastik Band dengan banyak hits berirama altenative rock n’ roll yang hangat dan kuat. Serta tidak ketinggalan pula, salah satu gitaris jazz terkemuka di Indonesia, Donni Suhendra. Mereka semua hadir dalam menyajikan musik yang dapat dirasakan, dinyanyikan, diingat setiap saat

Comments Off

Dwiki Dharmawan, Musisi Glob

Dwiki Dharmawan, Musisi Glob

Posted on 01 October 2009 by

dwikidarmawan_foto

Lebih banyak pecinta musik jazz mengenalnya melalui group jazz terkemuka dari Indonesia, Krakatau. Krakatau, sebuah group jazz modern yang dibentuknya bersama Pra B. Dharma sekaligus juga membesarkan namanya sejak 1984 ini menjadi salah satu band jazz unggulan para pecinta musik jazz. Sejumlah musisi jazz Indonesia pilihan pun pernah menjadi pendukungnya. Sebut saja Ruth Sahanaya, Donny Suhendra, Budhy Haryono, Trie Utami, Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan.

Perjalanan Krakatau pun penuh warna. Fase pertama, mereka beranjak dari salah satu kontestan Yamaha Light Music Contest, yang dulu lebih dikenal dengan LMC, dan Dwiki sendiri memenangkan penghargaan Outstanding Keyboard Player dalam acara puncak LMC di Tokyo pada tahun 1985. Atas keberhasilan tersebut, Krakatau dengan percaya diri mengeluarkan album pertamanya, ”Gemilang” (1986), ”La Samba Primadona (1988) di mana kedua album ini juga sering disebut sebagai ”First Album” dan ”Second Album”. Selanjutnya hadir album ”Kembali Satu” (1989) dan ”Let There Be Life” (1992).  Dalam fase ini mereka masih sedikit banyak memasukkan unsur musik pop dan bermain dalam warna jazz rock.

Namun perjalanan setelah itu, Krakatau mengalami semacam metamorfosa ke dalam sebuah kelompok band jazz yang tampil lebih dewasa, terutama dalam menyikapi arah estetis ke depan. Dengan kenyataan bahwa mereka tetap menjadi orang Indonesia yang mempunyai latar belakang kultural yang kaya termasuk dalam hal tradisi musik. Seolah ada pencerahan untuk melihat kembali dan bereksplorasi dengan keanekaragaman tradisi musik Indonesia yang dipadukan dengan kecintaan mereka terhadap musik jazz. Formasinya berubah total. Kali ini mereka juga mengedepankan beberapa musisi tradisional masuk ke jajaran line up utama (Adhe Rudyana, Yoyon Dharsono dan Zaenal Arifin) dengan beberapa anggota lamanya yang keluar. Belakangan Garry Herb dan Ubiet masuk. Empat album dalam fase kedua ini, antara lain adalah “Mystical Mist” (1994), “Magical Match” (2000), “Rhythm Of Reformation (2006) dan “2 Worlds” (2006). Peran Dwiki dan Pra dalam perubahan warna ini sangat vital. Justru dengan warna ini Krakatau merambah ke dalam pengakuan publik pecinta jazz di kancah internasional. Belum lama ini Krakatau juga sempat mengadakan konser ulang tahunnya yang ke-25.

Di samping kesibukannya bersama Krakatau, Dwiki juga sempat menggarap album solonya seperti “Di Antara Harapan” (1991), “Nuansa” (2002) dan paling spektakuler adalah “World Peace Orchestra” (2009). Barisan musisi dunia yang turut terlibat album “Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra” adalah Jimmy Haslip (bass), Russel Ferrante (piano), Walfredo Reyes Jr. (drum & perkusi), Tollak Olstad (harmonika), Roger Burn (marimba/vibes), Andy Suzuki (reeds) dan Rich Breen yang akan bertindak sebagai penata suara. Sementara, musisi asal New York yang kini bermukim di Malaysia, Steve Thornton (perkusi) dan drummer terbaik Asia, Lewis Pragasam,  ikut berpartisipasi menambahkan kekayaan warna musik aransemen Dwiki ini. Rekamannya dilakukan di Los Angeles Amerika Serikat.

Di luar itu semua, pria kelahiran Bandung tahun 1966 ini pun masih menyempatkan untuk aktif ke dalam dunia pendidikan melalui Lembaga Pendidikan Musik Farabi, terjun ke dunia sosial atau pun aktif membuat jaringan dengan para musisi bertaraf internasional.

Comments Off

I Wayan Sadra & SonoSeni Ansambel

Posted on 30 September 2009 by

Lahir 1 Agustus 1954 di Banjar Kaliungu, –Kaja, Denpasar, Bali. Sejak kecil, I Wayan Sadra sudah bisa bermain gamelan dalam tempo singkat hanya dari melihat. Pada usia 11 tahun, sadra bahkan sudah melatih sebuah kelompok gamelan di Puri Kendran, Gianyar Bali.

Berlatar belakang pendidikan Sekolah Menengah Musik Konservatori Karawitan Spesialisasi Musik Tradisional Bali (1972). Melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Rupa Lembaga Kesenian Jakarta namun tidak ia tamatkan. Pindah ke Solo dan kuliah pada jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI), melanjutkan ke Program S-2 Penciptaan Seni di tempat yang sama.

Menjadi pengajar musik, terutama musik gamelan Bali dibeberapa perguruan tinggi antara lain, STSI/ISI Surakarta,  Institut Kesenian Jakarta (1975–-1978), dan di Universitas Indonesia (1978-–1980). Sejak tahun 1979, ia telah membuat musik untuk konser, musikalisasi, puisi, teater, ilustrasi untuk film kartun, iringan tari, seni instalasi dll.

Dari tahun 1990 sampai dengan sekarang beberapa karya musiknya diterbitkan dalam bentuk compact disc, antara lain oleh Broadcasting Music Incorporation (BMI), Prog Peak Composer Collective, American Gamelan Institut (AGI), Leonardo Journal Publication dan The Japan Foundation. Karyanya antara lain : Snow’s Own Dream (1992), Interactions/New Music untuk Gamelan. Karya-karya tersebut disiarkan oleh beberapa radio di dalam dan diluar negeri, juga di pentaskan di beberapa negara.

Ditahun 1991, Sadra memperoleh penghargaan New Horizon Award dari International Society for Art Science and Technology, Berkeley, California, Amerika Serikat. Disamping mencipta musik, ia juga menulis artikel, kritik musik untuk beberapa media massa, antara lain, Suara Karya dan Bali Pos.

Salah satu perlawanan Sadra tehadap penyeragaman selera musik adalah dengan mementaskan karyanya Borderless, pada bulan Juli 2009 lalu di Teater Salihara, Pasar Minggu. Borderless adalah sebuah musik yang berangkat dari instrumen drum, keyboard, saksofon, flute dan bass tapi dimainkan dengan cara yang berbeda. “Alatnya yang sehari-hari dikenal, tetapi kita mainkan dengan cara kita masing-masing. Nyatanya menghasilkan komposisi yang bisa jadi alternatif mendengarkan musik,” katanya.

Comments Off

Kuatnika Warta jazz Dagadu Jogja
bambang paningron Hattakawa No Vindra
Jogja Jazz Tembi Rumah Budaya Dinas Propinsi DIY
djarum super BCA Telkomsel
Sidomuncul ISI Yogyakarta GS photography
HS silver gege transport sekar kedaton
Hotel Bifa Lusi Laksita Broadcasting Shcool & Partner in Comm Emax
HS silver omah dhuwur Radar Jogja
Kedaulatan rakyat Harian jogja Seputar Indonesia
Seputar Indonesia geronimo FM Swaragama
Jogja Family FM Dinas Propinsi DIY Ardia FM
Sonora FM Jogja I-radio Female Radio
JIZ FM Prambors UNISI FM
Pamit yang2an Solo Radio Truly Jogja
Getart Jazzuality Cekidot
Getart Adit TV Suara Jogja
My Magz Kabare Jogja Jogja TV
BNI via-via cafe Momento cafe

 

 

 

Following