A+ | A-
 

Archive | Ngayogjazz-2012

Peta-lokasi-ngayogjazz

Ngayogjazz 2012

Posted on 19 September 2012 by wawan

Dengan Ngejazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz. Ngayogjazz dari pertama diadakan selalu mengusung tema yang berlainan setiap penyelenggaraannya, dan selalu berkesinambungan. Setelah di tahun 2011 kemarin mengusung tema “Nandoer Jazz ing Pakarti” dimana dari “plesetan” peribahasa jawa “nandur woh ing pakarti” yang berarti melalui musik jazz menanamkan nilai-nilai musik jazz itu sendiri yang diterapkan dalam kehidupan bermusik maupun sehari hari. Dan di tahun 2012 ini mengambil tema “Dengan Jazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz” yang diambil dari suatu jargon pembangunan, dimana diharapkan saat ini para musisi-musis jazz terutama generasi muda yang telah bersemai di Ngayogjazz bisa mandiri mengembangkan kehidupan bermusiknya, baik dalam kreatifitasnya maupun karir bermusik mereka. Tidak hanya para musisi, beberapa Komunitas Jazz di berbagai kota yang sudah terbentuk pun sudah mulai menampakkan keseriusan dalam mengelola komunitas mereka sehingga menghasilkan juga musisi-musisi jazz dan group-group jazz baru. Perkembangan musik jazz di Indonesia juga sangat luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir ini, banyak group yang sudah bereputasi dunia dan rekaman musik jazz sudah meningkat pesat tiap tahun.

PARA PENYULUH / Artists Line up :

  1. ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks)
  2. Benny Likumahuwa
  3. Barry Likumahuwa Project
  4. Idang Rasjidi
  5. Shadu Rasjidi
  6. Shaku Rasjidi
  7. Irianti Erningpraja
  8. Eramono Soekaryo
  9. Rio Sidik
  10. Erik Sondhy
  11. Indro Hardjodikoro The Fingers
  12. Toninho Horta
  13. Jen Shyu
  14. Sinten Remen
  15. Shadow Puppet
  16. I Know You Well Miss Clara
  17. Ketzia
  18. Kampayo
    - Trio Sekawan
    - Reko Neko Band
  19. Komunitas Jazz Jogja
    - Chicken Jiezz
    - Berempat
    - Proyek President
    - Blank on 5
    - PROSES
    - Dialogue
    - Danny Project
    - Everyday
    - MuciChoir
  20. Komunitas Jazz Purwokerto
    - Mahamuni
    - Papa Richards and The Honkytonkman
  21. Solo Jazz Society
    - Andanawarih (ansamble quartet)
    - Streamline Quartet
  22. Jazz Ngisor Ringin Semarang
    - Delight (fusion jazz)
    - The Interview (ethnic fusion jazz)
    - Aljabar
  23. Balikpapan Jazz Lovers
  24. Gondo & Friends Surabaya
  25. Lampung Jazz Community
  26. Gubuk Jazz Pekanbaru
  27. Komunitas Jazz Pekalongan
    - Replica Batik (proyek gabungan TRIO UP dan RSP)
  28. Jay Gatrawardaya feat. Tesla Manaf
  29. Erwin Zubiyan and Friends
  30. Sounf of Hanamangke Bandung
  31. Jonathan Dangawa Quartet
  32. Herry Firmansyah (Blues)
  33. Jazz Gudangan

WAKTU & WAHANA / Date – Time & Venue

Minggu Legi, 18 November 2012. Jam 09 pagi – 09 malam.

Desa Wisata Brayut, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Kantor Pusat / Office : 

Kantor Pusat / Office : Jl. Munggur 50, Demangan, Yogyakarta 55221
Telepon & Faksimili : +62-274-512561
Email : ngayogjazz@yahoo.com
Website : www.ngayogjazz.com

PETA MENUJU WAHANA NGAYOGJAZZ  2012

RUNDOWN ACARA

NGAYOGJAZZ 2012

Minggu Legi, 18 November 2012
Desa Wisata Brayut, Sleman, Yogyakarta

PANGGUNG KEPRAK

12.30 – 13.00      Everyday (Komunitas Jazz Jogja)

13.00 – 13.20      Pambuka

13.20 – 14.00      Sound of Hanamangke (Bandung)

14.20 – 15.00      Jazz Ngisor Ringin (Semarang)

15.20 – 16.00      Gondo Jazz Trio (Surabaya)

18.30 – 19.30      Indro Hardjodikoro The Fingers

PANGGUNG LUKU

13.40 – 14.10      Blank on 5 (Komunitas Jazz Jogja)

14.10 – 15.00      Solo Jazz Society (Solo)

15.30 – 16.00      Dialogue (Komunitas Jazz Jogja)

16.50 – 17.20      Chicken Jiezz (Komunitas Jazz Jogja)

PANGGUNG CAPING

13.40 – 14.10      Proses (Komunitas Jazz Jogja)

14.10 – 14.40      Ketzia

14.40 – 15.20      Herry Firmansyah Blues (Yogyakarta)

15.20 – 15.50      Berempat (Komunitas Jazz Jogja)

16.00 – 16.30      MuciChoir (Komunitas Jazz Jogja)

16.30 – 16.50      Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja

16.50 – 17.20      Danny Eriawan Project (Komunitas Jazz Jogja)

18.30 – 19.00      Trio Sekawan (Kampayo)

19.00 – 20.00      Irianti Erningpraja & Eramono Soekaryo

20.00 – 20.30      Reko Neko Band (Kampayo)

PANGGUNG PACUL

13.50 – 14.30       Lampung Jazz Community

14.30 – 15.10       Gubuk Jazz (Pekanbaru)

15.10 – 15.40       Jay & Gatrawardaya feat. Tesla Manaf (Yogyakarta, Bandung)

15.40 – 16.20       Jes Udu Perwokerto

16.20 – 17.00       I Know You Well Miss Clara (Yogyakarta)

19.00 – 20.00       Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa

20.00 – 21.00       Idang Rasjidi, Shadu Rasjidi, dan Shaku Rasjidi

21.00 – 22.00       Jazz Gudangan

PANGGUNG LESUNG

13.50 – 14.20       Proyek Presiden (Komunitas Jazz Jogja)

14.20 – 15.00       Balikpapan Jazz Lovers

15.00 – 15.40       Batik Replica (Pekalongan)

15.40 – 16.20       Sinten Remen

16.40 – 17.20       Aljabar (Semarang)

19.00 – 19.30       Jonathan Dangawa Quartet (Yogyakarta)

19.30 – 20.30       ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks)

PANGGUNG ANI – ANI

13.30 – 14.30       Rio Sidik & Erik Sondhy

14.30 – 15.30       Jen Shyu

15.30 – 16.30       Shadow Puppet (Yogyakarta)

16.30 – 17.30       Toninho Horta

18.30 – 19.00       Erwin Zubiyan and Friends (Yogyakarta)

DESA PERCONTOHAN

Desa Wisata BrayutBermula dari salah satu pemuda yang mengajar di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing (PURI) Yogyakarta bernama Budi, yang mengajak mahasiswanya untuk mengunjungi Dusun Brayut. Di dusun ini, mahasiswa-mahasiswa tersebut berinteraksi bersama warga setempat dengan mempraktekkan beberapa kegiatan tradisional dan belajar bercocok tanam layaknya petani. Respon yang didapat dari mahasiswa cukup baik. Respon yang baik ini dianggap sebagai sebuah peluang alternative wisata. Maka, didirikan dan diresmikanlah Desa Brayut sebagai desa wisata pada tanggal 14 agustus 1999 di bawah naungan yayasan Ani-Ani.

Desa wisata Brayut terletak di Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Nama desa ini diambil dari seorang tokoh tetuanya yang terdahulu bernama Kyai Brayut. Desa wisata ini mengedepankan sisi budaya yang ada pada masyarakatnya. Memiliki berbagai potensi wisata budaya berupa kegiatan- kegiatan masyarakat yang mengandung unsur kearifan lokal yang dapat dipelajari oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan budaya yang bisa dilakukan di Desa Wisata Brayut yaitu karawitan, membatik, tari-tarian, wisata kuliner (Legondo adalah makanan khas Desa Brayut), permainan rakyat, ataupun kegiatan konservasi baik budaya ataupun lingkungan. Selain itu arsitektur rumah penduduk di Desa Wisata Brayut sangat kental dengan budaya Jawa, seperti bentuk Joglo, limasan, dan sinom. Beberapa rumah dan joglo sering dipergunakan untuk pertunjukan kesenian dan juga bisa dipakai sebagai tempat menginap.

Tak hanya kegiatan masyarakat,di desa ini terdapat sebuah pusat kerajinan tradisional bernama Ani-Ani Jewellery. Semua produk yang dijual di Ani-Ani Jewellery terbuat dari bahan-bahan alam dan bermodel tradisional yang diperoleh dari hasil kerajinan masyarakat sekitar Desa Brayut. Dengan adanya Ani-Ani Jewellery ini semakin menambah ciri khas tradisional etnik Desa Brayut. Potensi wisata yang dimiliki Desa Brayut inilah yang menjadi salah satu alasan pemilihan lokasi pelaksanaan Ngayogjazz 2012.

Comments (3)

Sound of Hamangke

Sound of Hanamangke

Posted on 18 September 2012 by wawan

Sound of Hanamangke, grup yang berasal dari tanah Pasundan ini berawal dari sebuah proyek yang dikembangkan dari Karinding Collaborative Project, Sound of Hanamangke kemudian mencoba membawakan karinding, yang merupakan getaram, dikolaborasikan dengan musik lain seperti pop, jazz dan blues.

Nama Sound of Hanamangke ini sendiri pun terbilang cukup unik. Berasal dari kata tan hana nguni tan hana mangke yang berarti tidak akan ada masa kini tanpa adanya masa lalu. Hal ini jelas sangat lekat dengan sebuah sejarah yang tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja. Pandangan ini kemudian mempengaruhi warna dari musik Sound of Hanamangke sendiri.

Proyek ini dibentuk oleh Jendela Ide, yang juga membawahi proyek karinding lain bernama Karinding Attack yang alirannya lebih ke arah musik metal. Konsep dari proyek ini sebenarnya mencoba untuk merangsang anak-anak muda dengan latar belakang yang berbeda agar mengerti satu sama lain, bermain, belajar, eksplorasi, berbagi ide dan berkolaborasi satu sama lain yang kemudian nantinya menjadi sebuah pertunjukan yang akan dinikmati oleh publik.

Sound of Hanamangke sendiri merupakan grup jazz yang sudah cukup dikenal di dunia jazz baik nasional maupun internasional. Dengan formasi Bintang Manira Manik (drum & percussion), Yudi Taruma Di Swara (kecapi & vocal), Wawan Kurniawan (kendang, tarawangs, & deejureeju) Daeng Rendy (guitar), and Lutfi Aditya (bass guitar), mereka mencoba mengekspresikan musik jazz dengan cara berbeda. Menggunakan rasa yang ada dalam musik dalam tradisi yang kemudian dikolaborasikan bersama dengan komposisi alat-alat musik modern untuk membuat komposisi lagu. Dengan cara seperti inilah musik yang dihasilkan menjadi begitu kaya namun tetap memiliki sentuhan etnik di dalamnya.

Comments (0)

BATIK REPLICA

Batik Replica

Posted on 18 September 2012 by wawan

Grup jazz yang satu ini datang dari Pekalongan, Jawa Tengah. Mencoba untuk untuk mengusung banyak ide dan aliran dalam sebuah grup. Hal ini disebabkan karena Batik Replica sendiri adalah gabungan dari dua beberapa proyek yang pernah tinggal di Pekalongan. Dua proyek ini adalah TRIO UP dan RSP. Kedua proyek ini sama-sama telah bermain bersama dalam satu acara dan menjadi pembuka bagi Idang Rasjidi Syndicate.

TRIO UP mencoba untuk membawakan sesuatu yang modern, mengeksplorasi suara baru, dan sesekali mencoba mengaransemen ulang lagu daerah ataupun lagu anak dengan gaya mereka. Sedangkan RSP mengusung blues yang punya ciri khas tersendiri. Akhirnya dari kedua perbedaan ini kemudian dicarilah sebuah titik temu dimana mereka bisa berbicara melalui satu bahasa, yaitu bahasa musik.

Lagu-lagu mereka pun patut menjadi perhatian tersendiri. Bidadari di Medan Perang, salah satu nomor yang mencoba untuk mengkombinasikan unsur latin dengan blues. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang cukup sering dimainkan oleh Batik Replica. Lagu lain yang kemudian coba tidak kalah bagusnya adalah Borneo Donuts. Lagu ini lebih terdengar rileks dengan tema yang simple dan dipadukan dengan nuansa groove modern.

Comments (0)

GUBUKJAZZ Foto

Gubuk Jazz Pekanbaru

Posted on 18 September 2012 by wawan

Gubuk Jazz, grup yang berdiri pada 17 Agustus 2011 ini mencoba semangat anak muda yang membuat gebrakan pada musik jazz terutama di Riau. Mereka tujuan untuk menghilangkan stigma tentang musik jazz yang eksklusif dan mahal dan mencoba untuk menyakinkan anak muda untuk tidak terpaku pada stigma tersebut.

Lahir dari sebuah proses panjang pembelajaran dan pematangan dalam musik terutama jazz, para pemuda multi-etnis, yang berasal dari berbagai macam latar belakang, kemudian membentuk yang disebut sebagai Gubuk Jazz Pekanbaru. Mereka adalah Muhammad Iksan, Reza Kagama Girsang, Teddy Mahintara, dan Adi Kurniawan. Semangat untuk belajar, berbagi pengalaman, pematangan ilmu dan teknik serta penguatan relasi antar musisi dan penikmat musik terutama jazz, membuat Gubuk Jazz Pekanbaru tetap ada dan berkembang hingga saat ini.

Justcozy adalah salah satu proyek yang akan mewakili Gubuk Jazz Pekanbaru. Justcozy merupakan gabungan 2 kata yaitu dari kata just yang berarti hanya dan cozy yang berarti menikmati. Dengan nama ini mereka bertujuan untuk menikmati segala aliran musik dan membuat pendengar menikmati musik yang dibawakan. Justcozy terbilang cukup baru karena baru terbentuk pada Oktober 2009 namun telah meraih cukup banyak penghargaan. Mereka pun menjadi juara 3 dalam salah satu acara musik bergengsi di regional Sumatra. Justcozy mencoba untuk mengusung musik pop dengan sentuhan acid jazz dan groove ini akan membawa pendengarnya untuk ikut larut dalam musik yang akan dibawakan.

Comments (0)

Lampung-Jazz-Society

Lampung Jazz Community

Posted on 18 September 2012 by wawan

Proyek pertama yang menjadi perwakilan dari Lampung Jazz Community adalah d’OUTSIDERS. Nama ini mungkin tergolong cukup unik, namun memiliki filosofi yang cukup unik. Mereka mengusung nama ini karena menganggap bahwa musik jazz di Lampung sendiri masih menjadi musik nomor sekian. Oleh karena itu mereka mencoba untuk melawan arus dari sekian banyak warna musik yang digemari di Lampung. Harapan yang kemudian muncul adalah semoga saja kemudian dapat memberikan warna baru, terutama jazz dalam warna musik yang ada di Lampung. Proyek ini beranggotakan Iroel (bass guitar), Deddy (drum), Santoz dan Didit (guitar), Daud (percussion), serta Naning dan Yudi Lelek (vocal).

Selain d’OUTSIDERS, ada satu yang lagi proyek yang mewakili Lampung Jazz Community dalam acara Ngayogjazz 2012. Proyek ini bernama The Three Songs Connection. Proyek ini digawangi oleh Samuel (bass), Josafat (drum), Dodo Mikha (piano), Robertus Bagas (gitar), Abhe, Wisnu, Andi, Ibrahim (percussion). Satu hal yang cukup menarik adalah ada personil dari proyek ini yang membawakan alat musik tradisional yang bernama cethik dan gamolan. Mereka adalah Ari, Endro, dan Riki (traditional instrument). Mereka pun telah malang melintang di beberapa acara jazz baik nasional maupun internasional. Beberapa diantaranya adalah Jazz Goes to Campus with Idang Rasjidi, Java Jazz 2011, dan World Youth Jazz Festival 2012 di Malaysia.

Comments (0)

Gondo Jazz

Gondo and Friends

Posted on 18 September 2012 by wawan

Grup jazz yang datang dari Surabaya ini terbentuk pada tahun 1996 dengan nama Yohanes Gondo Jazz Trio dan tampil reguler sampai dengan tahun 2000 di Kawie Lounge Sheraton Yogyakarta. Kemudian sempat berganti nama menjadi Gondo Jazz Trio pada awal tahun 2001 hingga saat ini, namun kemudian menjadi Gondo and Friends karena berkolaborasi dengan beberapa musisi jazz lain. Nama sedulur jazz satu ini tidak asing bagi penikmat musik jazz di Surabaya karena mereka memiliki jam terbang yang cukup tinggi.

Beranggotakan Yohanes Gondo (piano), Ahot Frederico (bass) dan Dhanny Ugik (drum). Sempat berganti personil, Gondo and Friends kemudian membuat “gebrakan” dengan formasi yang ada saat ini dengan menggandeng Ahot Frederico dan Dhanny Ugik yang berasal dari Malang. Soal prestasi bermusik masing-masing personil tidak perlu diragukan lagi. Yohanes Gondo merupakan murid dari musisi jazz kenamaan Bubi Chen, dan menjadi pemain pengiring di album Virtuoso. Dhanny Ugik sendiri memiliki pengalaman dengan beberapa musisi internasional di Hong Kong dan Singapura. Sedangkan Ahot Frederico merupakan murid didikan Totok Aviat, yang sebelumnya juga menjadi bagian dari Gondo and Friends. Selain itu juga, Gondo and Friends menggandeng Natasha Attamini sebagai vokalis untuk mendukung penampilan dari Gondo and Friends.Gondo and Friends juga ikut dalam Mojokerto Jazz Forum dan ITB Jazz Forum dan menjadi salah satu pengisi acara dan berkolaborasi dengan beberapa musisi lain dari forum tersebut.

Comments (0)

Balikpapan Jazz Lovers

Balikpapan Jazz Lover

Posted on 18 September 2012 by wawan

Datang dari tanah Borneo, grup satu ini membawa sebuah misi untuk “menyelamatkan” jazz. Ada visi yang dibawa oleh Balikpapan Jazz Lover yang mencoba untuk merubah pandangan khalayak umum bahwa jazz adalah musik eksklusif bagi orang-orang yang datang dari kaum elite/mapan. Dari hal inilah kemudian oleh grup asal Balikpapan mencoba untuk dirubah bahwa jazz merupakan musik yang bisa menghibur dan memberikan kepuasan kepada penikmat jazz dan masyarakat.

Balikpapan Jazz Lover berdiri pada tahun 2008, tepatnya pada tanggal 17 Juli, digawangi oleh Ahmad Jailani, Arie Djunaedi, Yossy Mardianto, Unun Luke, Eko Saparudi. Tidak hanya satu dua kali Balikpapan Jazz Lover mencoba untuk mengajak masyarakat untuk mengenal jazz. Ada banyak event yang digelar seperti Jazz on the Beach, Jazz on the Roads, Jazz in the Parks, Jazz in the Mall, dan masih banyak lagi. Cara yang cukup unik sebenarnya untuk memperkenalkan jazz dimana pun, kapan pun dan bagi siapa pun.

 

Comments (0)

Jazz Ngisor ringin 1

Jazz Ngisoringin

Posted on 18 September 2012 by wawan

Kali ini grup asal Semarang membawa tiga proyek yang akan menjadi perwakilan. Perwakilan pertama adalah Delight, yang mencoba untuk mengusung fusion jazz. Berawal dari proyek akustik yang digawangi oleh Faus, Galuh, dan Alvin, Delight kemudian berkembang dan sering berjalannya waktu serta pasang surut, formasinya pun berubah dan menjadi formasi yang diusung saat ini. Delight saat ini digawangi oleh Faus (bass), Putra (saxophone), Alex (guitar), Yoga (drum) dan Dani (keyboard).

Proyek lain yang menjadi wakil dari Semarang adalah The Interview. Mencoba untuk mengusung konsep musik jazz yang kemudian diberi sentuhan etnik di dalamnya, menjadikan the Interview menjadi salah satu proyek yang mengusung ethnic fusion jazz dan mencoba untuk memperkenalkannya pada semua kalangan. Band ini beranggotakan Andre (piano), Ardy (drums), Andro Yopi (bass), Nanda Goeltom (vocal), Beni (guitar) dan seorang additional player Yoseph (guitar).

Satu proyek terakhir yang menjadi wakil dari sedulur jazz Semarang adalah Aljabar. Band yang digawangi oleh MG (vocal & guitar), Fajar (MC/rapper), Mirza (bass guitar) dan Koko (keys, loop, synth) ini mencoba untuk membawakan nuansa hiphop kedalam jazz. Hal ini mungkin terdengar tidak lazim dan sangat jarang ada aliran musik jazz di Indonesia, terutama di Semarang sendiri yang mengusung aliran semacam ini. Namun disetiap penampilan langsung, Aljabar juga mencoba untuk berkolaborasi dengan musisi lain dengan alat musik lain seperti saxophone, digital piano, dan backing vocal.

 

Comments (0)

Solo-Jazz-Society

Solo Jazz Society

Posted on 18 September 2012 by wawan

Solo Jazz Society, atau yang lebih dikenal sebagai SoJazz, berangkat sebagai sebuah wadah yang menampung kreatifitas dan bentuk apresiasi dari musik jazz. Hal inilah kemudian terbentuk sebuah fondasi yang menjadi bagian untuk mengembangkan musik jazz di Solo dan dikembangkan hingga saat ini oleh musisi dan pecinta musik jazz di Solo. Belajar tentang jazz, jammin’ session, dan diskusi merupakan hal yang dijalani SoJazz untuk menjadi lebih dikenal oleh publik Solo dan bisa tetap berjalan hingga saat ini.

Dalam Ngayogjazz 2012 kali ini, SoJazz membawa dua grup, yang pertama adalah Andanawarih, yang merupakan ansambel dengan format quartet. Meskipun belum lama terbentuk, proyek yang beranggotakan Hans Christian (guitar), Vilya Lakstian (bass), Okvan Dwi Pramudya (drum), dan Guruh Susilo (vocal) ini mampu menyedot perhatian dari penikmat musik jazz Solo. Mereka adalah salah satu grup yang selalu ditunggu penampilannya di Parkiran Jazz, acara rutin setiap bulan di Solo.

Grup kedua dari Solo Jazz Society punya jam terbang yang lebih tinggi, mereka adalah Streamline Quartet. Ansambel ini terbentuk tahun 2008 dan menjadi bagian dari SoJazz. Proyek ini beranggotakan Aditya Ong Permadi (piano), Aryo Adityo (contra bass), Daniel Hibrianto (guitar), dan Daniel Nugroho (drum). Ansambel ini telah tampil dalam beberapa acara jazz seperti Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012, Solo City Jazz 2011, Ngayogjazz 2011 dan beberapa personilnya pun pernah ikut serta dalam Solo City Jazz 2009 dan Ngayogjazz 2009 sebagai wakil dari SoJazz. Ansambel ini juga membawa dua orang vokalis dari SoJazz yaitu Cati Rahayu Wulandari dan Monica Dyah untuk membawakan nomor jazz apik dengan suara yang renyah. Selain itu juga mereka akan berkolaborasi dengan Guruh Susilo dari Andanawarih.

Comments (0)

jes udu #1

Komunitas “JES UDU” Purwokerto

Posted on 18 September 2012 by wawan

Pertengahan tahun 2011 lalu, di Purwokerto berdiri sebuah wadah pembelajaran bagi para peminat seni yang bernama Padepokan Seni Satria. Agak berbeda dengan padepokan seni yang lain, padepokan ini lebih mengangkat masalah pendidikan, minat bakat dan kemampuan masyarakat Purwokerto dari golongan minoritas dan kurang mampu. Dengan pengajar yang handal, padepokan ini berusaha mengembangkan bidang seni tari, musik dan lukis.

Dari Padepokan Seni Satria tersebut, muncul sebuah komunitas baru yang bernama “Jes Udu”. Pendirinya adalah sebagian yang dulu tahun 2004 pernah aktif dalam Purwokerto Jazz Community.  Sementara yang dimaksud dengan nama “Jes Udu” sendiri adalah sebagai bentuk fleksibelitas media atau wadah yang menampung bukan hanya untuk kalangan musisi jazz namun juga untuk masyarakat yang sedekar menjadi pendengar, tertarik atau pun ingin tahu tentang musik jazz. Diharapkan dengan adanya Jes Udu ini, sejumlah warga Purwokerto dan sekitarnya tidak asing dan apriori lagi dengan musik jazz. Salah satu kegiatan yang sampai sekarang masih dilakukan adalah acara Jes Slasaan, sebuah kesempatan bermain bersama dan berapresiasi dengan musik jazz yang digelar setiap hari Selasa malam.

Ada 2 band yang mewakili dari Jes Udu untuk hadir di Ngayogjazz 2012, yaitu Mahamuni dan Papa Richards and The Honkytonkman. Mahamuni terbentuk tahun 2009 dengan personil Dodi Prasetyo (bass), Andrea Bayu (gitar), Bara (vokal) dan Roni (drum). Sementara Papa Richards and The Honkytonkman, band yang menjadikan blues dan jazz menjadi bekal kreasinya, didukung oleh Papa Richard (gitar), Safarie G ( saxophone), Nicko (keyboard), Kiki (bass) dan Ajie Bonzo (drum),

Comments (1)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Syaharani ESQIEF: Campur Sari Modern

Posted on 18 September 2012 by wawan

Jaman sekarang, rasa-rasanya semakin sulit untuk benar-benar menjatuhkan palu apakah musik yang dimainkan oleh seseorang atau pun sebuah group itu 100% mewakili sebuah genre musik. Hal tersebut sudah lumrah terjadi dalam kancah musik populer seperti jazz, pop, rock, R&B, disko dan rap. Bagaikan sebuah reaksi kimia, masing-masing akan saling berinteraksi, tumpang tindih sehingga menghasilkan suatu sajian yang lain.

ESQI:EF, satu group yang dulu lebih dikenal sebagai Syaharani & The Queenfirework, pun ikut merayakan keanekaragaman sajian musik yang catchy dinikmati lebih banyak kalangan. Group yang dibentuk tahun 2006 ini sengaja dibuat agar lebih akrab dengan banyak pendengar dan segar. Formasi ini juga untuk memberi warna lain dengan beberapa album Syaharani sebelumnya yang cenderung menonjol unsur jazznya. Bersama formasi Queenfireworks, Syaharani tidak berbicara sebagai penyanyi jazz semata, namun lebih mencakup seni musik secara keseluruhan yang dipadukan dengan harmonis termasuk tidak meninggalkan kekhasan musik jazz itu sendiri, improvisasi.

ESQI:EF menembus batasan pendengar yang biasanya hanya suka nongkrong di klab-klab jazz atau pun yang suka dengan dunia gemerlapnya diskotik. Yang masih sekolah, kuliah atau pun yang sudah sibuk bekerja. Semuanya menyatu dalam lirik dan lagu yang menjadi kekuatan dalam menyikapi segala rasa dalam kehidupan dalam satu harmoni.

Bersama ESQI:EF ini, Syaharani sudah merilis 2 album “Buat Kamu” (2006) dan “Anytime” (2010). Disamping itu, masih ada 3 album solonya yang selalu diputar di radio-radio serta segudang pengalaman dan prestasi baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Comments (0)

BENNY LIKUMAHUWA_JJF12_GVN (95)

Benny Likumahuwa: Sang Legenda

Posted on 18 September 2012 by wawan

Keluarga ‘Likumahuwa’ dalam dunia musik di Indonesia memang mendapat tempat istimewa. Misalnya vokalis legendaris dengan olah vokal bernuansa pop/jazzy yang sudah eksis sejak dekade 1980an, Utha Likumahuwa.  Kemudian yang saat ini menjadi leader salah satu band jazz fusion yang lagi digandrungi ratusan ribu pendengar muda, Barry Likumahuwa. Atau pun vokalis sekaligus seorang ahli yang memainkan seni bela diri Capoeira, Jilly Likumahuwa.  Semua nama tersebut mempunyai hubungan keluarga sangat dekat dengan Benny Likumahuwa.

Benny Likumahuwa, pria kelahiran Kediri Jawa Timur 18 Juni 1946 yang belajar musik secara otodidak ini jadinya malah seorang multi instumentalis. Berawal dari bermain bongo kemudian beralih bermain bass. Di samping itu, Benny juga tertarik untuk bisa memainkan instrumen tiup klarinet dan saxophone juga sambil belajar trombone.

Karier musiknya sendiri setelah menghabiskan masa kecilnya di Ambon, Benny tinggal di Bandung sembari bergabung dengan Cresendo Band dari Bandung. Namanya semakin dikenal masyarakat luas ketika Benny bergabung dengan The Rollies pada tahun 1968 dengan berbagai kesibukannya tour keliling Indonesia atau pun sempat rekaman di Singapura. Di luar kesibukannya bersama The Rollies, Benny membentuk The Augersindo serta sempat bergabung dengan The Jazz Raiders, Jack Lemana Combo, Trio ABC (Abadi Soesman, Benny & Candra Dharusman), Ireng Maulana All Stars dan freelance dengan grup-grup lain. Belum lagi pengalaman tampil di panggung-panggung pertunjukan jazz kelas lokal, nasional maupun dunia tidak terhitung lagi. Dari tampil di Trenggalek sampai The North Sea Jazz Festival di Belanda. Penampilannya beberapa tahun terakhir ini sering terlihat bersama band yang lagi banyak digandrungi anak-anak muda, Barry Likumahuwa Project.

Comments (0)

BLP-MYPLACE_053

Barry Likumahuwa Project

Posted on 18 September 2012 by wawan

Sekian puluh tahun sudah, Barry menghabiskan waktunya untuk sarapan bersama ayahnya sendiri yang tidak lain adalah salah seorang dedengkot The Roliies dan bintang dalam ratusan rekaman studio atau konser musik jazz di tanah air, Benny Likumahuwa. Artinya, sudah Barry harus berani berangkat dengan segala kemampuannya sendiri dalam melanjutkan tradisi bermusik dalam keluarga tersebut.

Memang kiprahnya sudah dirintis sejak 2006 ketika namanya tercantum dalam album kompilasi para bassis (Bass Heroes). Dalam kesempatan tersebut, pria kelahiran 14 Juni 1983 ini mulai mengasah dan membangun kekuatan bakatnya bersama para musisi seusianya. Dua tahun sesudahnya, Barry sudah memimpin band yang terdiri dari Nikita Dompas (gitar), Dennis Junio  (alto saxophone), Doni Joesran (keyboards, piano), Jonas Wang (drums), dan  Matthew Sayersz (vokal).  Formasi ini masuk dapur rekaman dengan menghadirkan bintang tamu Benny Likumahuwa, Glen Fredly, Dewi Sandra, Parkdrive, Ello serta duo saxophonis kecil Gadis V & Bass G. Hasilnya adalah album “Barry Likumahuwa Project: Goodspell”.  Lagu-lagu ‘Mati Saja’, ‘Saat Kau Milikku’ atau aroma fusion jazz ‘80an ‘Walkin with the Bass’ langsung menjadi Top Request di radio atau di panggung yang banyak dihadiri kalangan muda.

Tahun 2011, BLP, nama populernya Barry Likumahuwa Project, kembali menghadirkan album baru dengan judul “Synergy”. Selain menampilkan lagu fusion yang menghentak dan menantang seperti ‘Twitter Jam’ atau ‘Seven 7’,  BLP masih membuat lagu-lagu manis ‘We Miss You’ atau ‘Cinta Abadi’. Dengan album ini BLP semakin menegaskan menjadi group fusion paten Indonesia yang ada saat ini.

Dua tahun terakhir ini, kesibukan Berry juga ditambah dengan keterlibatannya bersama Barry Likumahuwa Quartet atau bersama LLW yang kemudian menjadi LLw.

Comments (0)

Band-Jazz-Yogyakarta

Band Jazz Yogyakarta.

Posted on 18 September 2012 by wawan

Ada hal spesial di Ngayogjazz 2012 kali ini, yang menampilkan beberapa band jazz yang berasal dari Yogyakarta. Mereka juga mencoba untuk memberikan penampilan yang tidak kalah seru dari sedulur jazz Komunitas Jazz Yogyakarta. Erwin Zubiyan, yang juga merupakan anggota dari Risky Summerbee and the Honeythief, menjadi salah satu musisi yang akan tampil. Penampilan di Shizuoka dan Osaka Jepang, Rock in Asia di Singapura, dan Java Rockin’ Land di Jakarta menjadi bukti jam terbang yang cukup tinggi dan membuat permainan gitarnya tak diragukan lagi. Erwin Zubiyan pun mencoba untuk mengeksplorasi musiknya dengan membuat proyek solo yang diberi nama Erwin Zubiyan Soul of Experience.

Selain Erwin Zubiyan, ada juga Jay & Gatra Wardaya yang akan tampi di Ngayogjazz 2012. Dibentuk pada pertengahan tahun 2012, Jay & Gatra Wardaya mencoba untuk mengusung musik puisi. Namun bukan sembarang musik puisi, mereka mencoba mengaransemen puisi romantik Amerika ataupun macapat Jawa membalutnya dengan alunan musik jazz. “Membuatku Cinta” menjadi nama album yang mereka buat. Jay & Gatra Wardaya juga akan memberikan sedikit kejutan karena akan berkolaborasi dengan Tesla Manaf, gitaris asal Bandung, dalam beberapa lagu.

Satu lagi band yang akan memeriahkan Ngayogjazz 2012 yaitu I Know You Well Miss Clara. Jika melihat latar belakang masing-masing personil dari I Know You Well Miss Clara, kemampuan mereka tidak diragukan lagi. Beranggotakan Reza Ryan (guitar), Ady Wijaya (piano), Enriko Gultom (bass guitar) dan Alfiah Akbar (drum), band ini mencoba untuk membawakan experimental jazz. Album “Dangerous Kitchen” menjadi bukti daribuah karya mereka yang coba untuk menggabungkan kombinasi teknik, estetik, dan jiwa mereka di dalamnya. Penasaran dengan band-band yang akan tampil diatas? Ngayogjazz 2012 akan menjadi pembuktian mereka jadi jangan sampai ketinggalan untuk melihat penampilan mereka.

Comments (0)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dunianya Idang Rasjidi

Posted on 18 September 2012 by wawan

Namanya begitu dikenal dan pribadinya sangat akrab dengan komunitas-komunitas jazz yang ada di berbagai kota di tanah air. Dari waktu ke waktu, bandara-bandara di negeri ini seolah sudah menjadi ruang transit belakang panggung. Siang harinya masih tampil di Jakarta, malam harinya berada di Pekolangan kemudian keesokan hari sudah siap tampil di Manado atau di Medan. Dan begitu terus beliau menghabiskan waktunya untuk membuktikan dedikasi dan kecintaannya terhadap musik jazz yang dimanifestasikan dalam bidang pendidikan bermusik atau pun pementasan.

Selain itu, bisa dikatakan pula bahwa beliau adalah bagian dari sejarah musik jazz di Indonesia itu sendiri. Rekaman-rekaman memori ketika belajar maupun tampil bersama para senior dan pioner musik jazz Indonesia seperti Jack Lesmana, Maryono, Benny Likumahuwa, Benny Mustafa sampai saat ini masih hangat. Sama semangatnya ketika dia juga memperkenalkan para musisi muda berbakat dari berbagai kota dan pelosok negeri ini ke panggung nasional.

Tidak salah lagi, keyboardis kelahiran Bangka Belitung 26 April yang memberikan kontribusinya terhadap musik jazz di tanah air semenjak dekade 1970an hingga sekarang ini adalah Idang Rasjidi. Tercatat namanya dalam rekaman sejarah dunia musik jazz Indonesia seperti bergabung dengan Galantic, Trigonia Trio, The Djakarta All Stars, Heaven Earth, atau pun aktifitasnya beberapa tahun terakhir bersama Idang Rasjidi Syndicate.

Berbagai proyek rekaman album bersama musisi lain pun sudah terlampaui. Termasuk dengan sekurang-kurangnya 10 album miliknya yang variatif. Fusion, bop, swing, jazzy bahkan ada 2 album yang menampilkan musik religi dengan balutan nafas jazz yang cukup kental.  Jangan lupa pula, keterlibatannya dalam acara talk show TV populer di era 1990an bersama kang Ebet Kadarusman “Salam Canda”.  “Jazz dan jokes, adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan”, ujar Idang dalam sebuah wawancara. Begitulah dunia Idang Rasjidi yang penuh dengan warna dan jiwa.

Comments (0)

Irianti erningpraja 1

Irianti Erningpraja

Posted on 18 September 2012 by wawan

Bagi penikmat musik jazz Indonesia, mungkin nama Irianti Erningpraja menjadi tidak asing lagi ditelinga. Namanya cukup dikenal oleh penikmat musik jazz tahun 80-an akhir sampai dengan awal 90-an. Pada awalnya, Irianti Erningpraja justru memulai karirnya bukan sebagai pemusik. Sempat terjun dalam dunia renang Indonesia namun sayangnya terhenti karena masalah kesehatan. Setelah itu Irianti Erningpraja bergabung dengan grup tari Swara Mahardhika yang. Sempat melalang buana karena menari, Irianti Erningpraja kemudian mulai terjun ke dalam dunia musik nasional.

Karirnya dalam menciptakan lagu sebenarnya berawal dari insiden tak sengaja. Musisi Candra Darusman dan Adjie Soetama membantu Irianti untuk menyertakan lagu karyanya yang pertama ke Festival Pop Song Nasional pada tahun 1983. Tidak disangka lagu Irianti menjadi juara pertama dan dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru pada tahun itu, Vina Panduwinata.

Tidak hanya menciptakan lagu, pada tahun 1986, dibawah naungan Union Records, Irianti Erningpraja mengeluarkan album pertamanya dan menjadi penanda karirnya dalam dunia musik. Album “Kuharus Mencari” dan “Ada Kamu” menjadi album yang membawa Irianti Erningpraja ke tahap yang lebih tinggi dalam dunia musik.

Kepiawaiannya dalam menciptakan lagu dan bermusik membuka pintu Irianti Erningpraja untuk bisa berkolaborasi dengan musisi dari luar. Saxophonist Dave Koz, pianist Jeff Lober dan penyanyi country Victoria Shaw menjadi beberapa musisi yang pernah berkolaborasi dengan Irianti Erningpraja.

Sempat vakum untuk beberapa saat, Irianti Erningpraja kemudian kembali lagi ke dalam dunia yang telah membesarkan namanya. Tahun 2010, sebuah album yang diberi nama Project Bebas menjadi karya Irianti Erningpraja dengan menggandeng beberapa musisi yang untuk ikut terlibat dalamnya. Bagi anda yang menjadi penggemar Irianti Erningpraja tentu tidak sabar lagi untuk menyaksikan penampilannya secara langsung. Jadi jangan sampai melewatkan aksinya di Ngayogjazz 2012.

Comments (0)

IMG_8751

Eramono Soekaryo: Musisi yang Tak Terlupakan

Posted on 18 September 2012 by wawan

Sekedar mengingat, sekitar pertengahan dekade 1980an di Indonesia banyak sekali grup atau musisi jazz/jazzy bermunculan, bak jamur di musim penghujan. Sebut saja ada Karimata, Bhaskara, Krakatau, Emerald, Indonesia 6 atau pun Black Fantasy. Mereka semua begitu populer di kalangan para pecinta musik jazz kala itu. Namun grup yang bernama RAG barangkali relatif jarang dikenal. Padahal salah satu personilnya adalah musisi muda jebolan dari sekolah musik legendaris Berklee Collage of Music Boston, yaitu Eramono Soekaryo. Eramono bisa dikatakan sebagai “generasi pertama” pelajar Indonesia yang belajar dari sekolah musik sangat bergengsi itu. Sayangnya, RAG juga tidak berumur panjang.

 Tidak lama setelah itu, muncul grup fusion/jazz rock Indonesia baru dengan nama Spirit. Grup ini beranggotakan Eramono Soekaryo & Djudju Hartono (keyboard), Dewa Budjana (gitar), Didiek SSS (saxophone & flute), Ilyas Muhadi (bass), Didi Suryadi (drum), Komala Ayu (vokal) dan menghadirkan vokalis tamu Vicky Vendi dan Helmi Indrakesuma.  Debut album self title tahun 1987 ini menyajikan hit terkenal ‘Bayang-Bayang Semu’ atau ‘Asa Pasti’. Selain itu, para musisi pendukung Spirit Band di kemudian hari menjelma menjadi musisi-musisi papan atas Indonesia.

Sembari tampil bersama Spirit Band, pada tahun yang sama Eramono juga merilis album pertamanya dengan judul “Eramono” dengan menghadirkan bintang Andi Meriem Mattalatta, Neno Warisman dan shanti Faraquella. Lagu ‘Kenangan Asmara’ berhasil menjadi hit untuk album ini. Lama menghilang, pada tahun 1992 keluar album Spirit kedua “Mentari”.  Posisi vokalis utama diganti oleh Deddy Permana Sakti sementara Komala Ayu hadir sebagai bintang tamu. Setahun berikutnya, Eramono mengeluarkan album solonya yang kedua “Biarkan Kami Berdua” yang berisi kompilasi beberapa penyanyi seperti Nia Zulkarnaen, Iwan Zen atau Spirit Band. Saat ini, Eramono masih cukup dikenang sebagai salah satu pemain berbakat yang sedikit banyak memberikan warna musik di era 1980an.

Comments (0)

Rio Sidik

Rio Sidik: Garis Depan Trumpeter Indonesia

Posted on 18 September 2012 by wawan

Trumpet adalah “the royal instrument of jazz”. Paling tidak para pioneer musik jazz adalah pemain trumpet. Katakanlah Louis Armstrong, Dizzy Gillespie, Miles Davis sampai musisi yang populer saat ini Chris Botti. Hanya saja di Indonesia yang gairah bermusik jazznya sedang tinggi ini, instrumen trumpet belum banyak menarik minat musisi-musisi muda untuk bereksplorasi dengannya dibandingkan dengan instrumen lain.  Namun sedikit bukan berarti tidak ada. Beberapa musisi nasional mulai dikenal dengan kehebatannya bermain trumpet. Salah satunya adalah pemuda kelahiran Surabaya ini, Rio Sidik.

Musik selalu menjadi bagian penting dari kehidupan Rio Sidik. Pertama tampil di panggung ketika berusia 10 tahun bersama kakak adiknya. Setelah itu, tampil rutin bersama big band kakeknya. Di situ lah dia mulai memainkan trumpet dan belajar banyak tentang musik.  Dia mulai mengembangkan sayapnya ketika Indra Lesmana mengajak bergabung di proyek Reborn tahun 2000 serta tampil bersama Bubi Chen dan Erwin Gutawa Orchestra.

Setelah menikah dengan Sally Jo tahun 2002, bersama istrinya dia mendirikan Rio Sidik & Saharadja. Sebuah kelompok world fusion yang memadukan berbagai ragam musik seperti musik klasik, etnis, jazz, pop, rock, techno dan bahkan dangdut. Resep mereka adalah mengolah semua jenis musik menjadi sebuah cakrawala musikal yang menantang seperti yang terlihat para personil dan instrumentasinya. Bersama grup ini, sempat menghasilkan 2 album dan tour dunia ke Afrika Selatan, China, Eropa, Australia dan masih banyak lagi.

Saat ini dia membentuk Rio Sidik Jazz Quartet dan duetnya bersama Erik Sondhy yang menjadikan salah satu formasi top dari Bali, di mana dia tinggal sekarang.

Comments (0)

Komunitas Jazz Jogja

Komunitas Jazz Yogyakarta.

Posted on 18 September 2012 by wawan

Suasana berbeda kemudian coba dibawakan oleh sedulur jazzKomunitas JazzYogyakarta mencoba untuk membawa musik jazz pada konsep yang berbeda. Mereka ingin menunjukkan bahwa musik jazzbisa diusung dengan konsep “jazz kaki lima”. Tuwo, enom, mlarat, sugih, kabeh iso ngrunggokke musik jazz, mungkin ini adalah kata-kata yang bisa menggambarkan keadaan yang ada. Cara ini kemudian menumbuhkan minat dan benih-benih yang telah lama disemai itu sekarang sudah berkembang sangat pesat.

Sedulur jazz Yogyakarta ini sendiri tergolong cukup rajin dalam mengadakan acara rutin dengan konsep jammin’ session. Setiap minggunya, ada Jazz Mben Senen yang menjadi wadah untuk saling berbagi musik jazz. Acara ini biasanya diadakan senin malam di Bentara Budaya Yogyakarta. Selain itu juga ada juga acara yang digelar setiap bulan, hari rabu di minggu ketiga. Mengambil tempat di Momento Café, acara ini juga menjadi wadah untuk mengapresiasi musik jazz. Sedulur jazz Yogyakarta juga tidak hanya rajin dalam mengadakan jammin’ session tapi juga mengadakan workshop untuk memperkenalkan jazz lebih jauh bagi teman-teman yang tertarik untuk tenggelam dalam dunia jazz Yogyakarta. Cara-cara ini telah menjadikan jazz dikenal oleh masyarakat Yogyakarta.

Dalam Ngayogjazz 2012 kali ini, Komunitas Jazz Yogyakarta akan menampilkan Chicken Jiezz, Berempat, Proyek President, Blank On 5, PROSES, Dialogue, Danny Project, Everyday dan Mucichoir. Merekalah yang akan menjadi wakil sedulur jazz Yogyakarta sebagai hasil dari benih yang sudah disemai sejak lama.

Komunitas Jazz Yogyakarta sendiri telah melahirkan tiga buah album sejauh ini. Jazz Basuki Mawa Beya (2009) menjadi album pertama mereka. Kemudian disusul Sesarengan (2010) dan Lain Ladang Lain Jazz-nya (2011). Jadi proyek manakah yang anda nantikan penampilannya? Jangan lewatkan di Ngayogjazz 2012 kali ini.

Comments (0)

Kampayo

KAMPAYO (Komunitas Artis dan Musisi Panggung Yogyakarta)

Posted on 18 September 2012 by wawan

Dalam dunia hiburan di Yogyakarta, dalam hal ini tidak hanya musik saja, ada sebuah komunitas yang mencoba untuk merekatkan hubungan antara satu seni dengan seni lainnya. Mereka sudah berdiri sejak tahun 1998 dan masih berjalan hingga saat ini. Sempat mengalami vakum pada tahun 2003 dan 2011 karena kesibukan masing-masing personilnya, komunitas ini kemudian tidak lantas berhenti dan mati. Komunitas ini adalah, Komunitas Artis dan Musisi Panggung Yogyakarta yang lebih dikenal dengan nama KAMPAYO, yang menjadi jembatan bagi komunitas seni di Yogyakarta.

KAMPAYO sendiri memiliki sebuah “ruang” yang digunakan oleh teman-teman musisi Yogyakarta untuk mengembangkan kemampuannya dalam bermain musik. KAMPAYO Corner menjadi tempat teman-teman musisi untuk berbagi salah satunya adalah musik jazz. Tidak sedikit juga musisi jazz yang cukup mahir juga menjadi bagian dari KAMPAYO dan menjadi mentor bagi mereka yang masih hijau dalam dunia jazz. Hal ini juga membantu dan membawa perkembangan jazz Yogyakarta untuk lebih dikenal lagi dengan baik. Selain itu juga sedulur jazz KAMPAYO juga mencoba untuk membantu untuk mengembangkan usaha yang diharapkan juga bisa membuat aktivitas, yang berhubungan dengan seni, yang ada di dalam tubuh KAMPAYO bisa menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Dalam Ngayogjazz 2012 kali ini, sedulur jazz dari KAMPAYO akan menjadi salah satu dari sekian banyak komunitas yang akan tampil. Tentunya akan menarik untuk menyaksikan penampilan dari KAMPAYO karena KAMPAYO sendiri merupakan melting pot, titik temu dari banyak komunitas seni yang beragam. Dari banyaknya warna yang tercampur dalam KAMPAYO juga kemudian bisa dilihat dari musik yang akan dibawakan. Jadi seperti apakah penampilan sedulur jazz yang satu ini dalam Ngayogjazz 2012? Mari kita nikmati bersama.

Comments (0)

Erik Sondhy

Erik Sondhy: Pianis Andalan Baru Jazz di Indonesia

Posted on 18 September 2012 by wawan

Erik Sondhy Andriaan John atau yang lebih dikenal dengan panggilan Erik Sondhy, mulai dikenal ketika menjadi juara pertama kompetisi band di Jazz Goes to Campus tahun 1999 bersama D’ Moods Jazz Band. Paling tidak momen tersebut membuka sinyal harapan Erik dalam menapaki jalan hidupnya ke depan.  Setelah event tersebut, Erik semakin aktif dalam dunia panggung musik jazz. Katakanlah dia ikut berpartisipasi dalam Jazz Merah Putih di Bali, Indonesian Open Jazz, Matra Jamz Jazz, Singapore Jazz Festival, Java Jazz Festival dan masih banyak lagi.

Seiring dengan waktu, semakin dalam Erik untuk bereksplorasi dengan musik jazz. Dia kembali membongkar peninggalan dan kekayaan musik jazz dari Charlie Parker sampai E.S.T dan Jamie Cullum. Menurutnya, musik adalah pencarian intens, penyelidikan dari alam belum dimanfaatkan, sebuah persinggahan yang kekal. Musik adalah, sumbang harmonis, merdu, tegang, bebas, berteriak, berbisik, aneh, merdu, jelek, inkarnasi indah suara. Ini adalah bahasa, kekuatan energi, tarian, jeda, napas, transendensi kosmik. Seperti yang dilakukannya dalam proyek Erik Sondhy Mini Orchestra misalnya, dia memainkan aneka instrumen; keyboard, piano, synthesizer, trumpet, gitar, drum, vokal atau pun loop.

Selain itu, dia juga selalu mengasah pengalamannya bersama para musisi-musisi berkualitas lainnya atau dalam proyek sendirinya. Tahun 2001 pernah terlibat dalam Jiwa Band bersama Indra Lesmana, Koko Harsoe, Pitoelas Bigband, World Peace Orchestranya Dwiki Dharmawan, Indro Hardjodikoro, Balawan, Barry Likumahuwa sampai Superman is Dead. Adapun beberapa proyek menariknya adalah tampil bersama Karma Jazz Trio dengan formasi Indra Gupta (bass) dan Sandy Winarta (drum) atau ESP bersama Helga Sedli (biola, vokal), Irul Umam (saxophone), Catur (bass), Toby (perkusi) dan Warman Sandjaya (drum) .  Selain itu, Erik juga ikut serta berpartisipasi dalam kompilasi musisi-musisi jazz dan fusion dari Bali, Rendez-vous.

Comments (0)

Shyu7_PhotoMirandaLichtenstein

Jen Shyu: “Ujung Langit Adalah Tempat Asalku”

Posted on 18 September 2012 by wawan

Lahir di Illinois dari orangtua yang berasal dari Taiwan dan Timor Leste, Shyu sudah tampil dan melakukan rekaman sebagai seniman tunggal, pemimpin band, dan “sidewoman” (bernyanyi dengan band lain), di seluruh Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika. Melakukan perjalanan dan rekaman dengan pemain saksofon Steve Coleman & Five Elements sejak 2003 serta di beberapa tampil di Lincoln Center, Brooklyn Academy of Music, Blue Note, Merkin Hall, dan Bimhuis di Amsterdam. Shyu pernah berkolaborasi dengan inovator-inovator seperti Anthony Braxton, Mark Dresser, Bobby Previte, Dave Burrell, Mat Maneri, Chris Potter, Michael Formanek, David Binney dan masih banyak lagi. Nama-nama legendaris dalam kancah musik jazz, terutama dalam style free jazz dan komunitas musisi Downtown New York, sebuah komunitas jazz kreatif yang muncul di New York tahun 1990an.

Sejak lulus dari Universitas Stanford, dia sudah dianugerahi tempat di MacDowell Colony dan Yaddo Residency, serta beasiswa untuk bepergian dan meneliti di Kuba, Brazil, Taiwan, China, Timor Leste, dan Indonesia dari program beasiswa Fulbright, Asian Cultural Council, Jerome Foundation, dan Bronx Council of the Arts. Sekarang dia tinggal di Yogyakarta-Solo, Indonesia, sudah memulai belajar Sindhenan dan Langendriyan sambil mengembangkan karya baru berskala besar, dan pernah menghasilkan empat album sebagai pemimpin band: For Now, Jade Tongue, Inner Chapters, serta menjadi artis dan vokalis perempuan pertama sebagai pemimpin di Pi Recordings dengan album duo Synastry dengan pemain bass Mark Dresser yang menuai banyak pujian

Uniknya, Jen Shyu memainkan banyak instrumen sekaligus vokalis dan penari. Bermain gitar 2 senar dari Taiwan, obyek-obyek bernada dan suara tubuh. Dalam album solonya “Inner Chapter”, gabungan karya sendiri dan tradisional serta mengembangkannya ke dalam improvisasi yang menarik.

Comments (0)

Toninho Horta

Toninho Horta: Salah satu gitaris terbaik di dunia

Posted on 18 September 2012 by wawan

Barangkali kesamaan iklim tropis antara Indonesia dan Brasil serta warna warni kebudayaannya membuat gitaris terkemuka musik jazz dan Brasilian ini merasa harus selalu kembali lagi tampil di Indonesia semenjak kunjungannya tahun 2004 dan 2010 lalu. Di Indonesia pun penggemarnya semakin banyak. Di mana irama musik bossa nova sudah menjadi salah satu warna musik kesenangan para pecinta musik jazz di tanah air juga semenjak era 1970an.

Sebenarnya tidak hanya di Indonesia saja, kecantikan dan kehalusan harmoninya dalam membuat alur melodi sebuah lagu memang membuatnya menjadi musisi disegani kelas dunia. Bahkan gitaris jazz papan atas Pat Metheny memujinya dalam beberapa kali kesempatan, “Salah satu gitaris maupun komposer besar di dunia ini yang menggunakan gitar senar nylon. Dia bermain dengan suara cool secara mendalam. Saya sering menyebutnya sebagai Herbie Hancocknya gitaris bossa nova.  Dia musisi hebat yang mengerti betul harmoni dalam cara yang paling intim”. Dia memang mengembangkan bakat-bakat personalnya dengan khas. Menurut beberapa pihak malah menilai Pat Metheny pun sedikit banyak terpengaruh dari Toninho Horta.

Di samping sebagai pemain gitar dan komposer hebat, dia juga membantu sebagai aranger bintang-bintang musik terkenal dari Brasil seperti Milton Nascimento, Joao Bosco, Airto Moreira, Sergio Mendes dan masih banyak lagi. Karya-karya Toninho sendiri sudah diabadikan sejak album pertamanya “Beto Guedes, Danilo Caymmi, Novelli e Toninho Horta” (1973) sampai album terakhirnya “Harmonia & Vozes” (2010) yang sedikitnya sudah menghasilkan 26 album. Belum termasuk kesuksesannya dalam berkolaborasi bersama vokalis jazz kelas dunia Luciana Souza dalam album terakhirnya di tahun 2012 ini, “Duos III”.

Comments (0)

Shadow Puppet1

Shadow Puppets

Posted on 18 September 2012 by wawan

Barangkali grup jazz ini belum banyak dikenal untuk publik pecinta jazz di Yogyakarta. Mamang masih relatif baru, baik dari kehadirannya dalam melengkapi warna style musik jazz di tanah air secara umum maupun para personilnya sendiri.  Di Indonesia akhir-akhir ini sedikit demi sedikit bermunculan beberapa group yang perhatian terhadap style post-bop.  Satu style yang menonjol di Amerika Serikat di era 1980an dengan menekankan kembali langgam improvisasi khas swing, bebop atau pun hardbop dengan variasi ritmik dari perkembangan trend musik terbaru. Beberapa pengamat lain menyebut neo-bop dan neo-klasik. Para pendukungnya juga kebanyakan anak-anak muda. Seperti yang dilakukan Shadow Puppets ini.

Muncul sekitar akhir dekade 2000an ketika Robert Mulyarahardja (gitar), Irsa Destiwi (piano), Indrawan Tjhin (bass) dan Yusuf Sandy Satya (drum) menghadiri sebuah workshop musik Serambi Jazz. Tidak lama setelah itu, mereka sepakat membuat sebuah grup. Barangkali juga nama Shadow Puppets -Wayang Kulit, ini dipilih untuk bisa merepresentasikan ke Indonesiaannya.  Robert sendiri adalah jebolan dari sekolah jazz legendaris Berklee Collage of Music, sementara Irsa pernah mendapat penghargaan ketika ada sebuah kompetisi membuat re-aransemen karya Ismail Marzuki. Indrawan adalah lulusan Koninklijk Conservatory of Den Haag yang mempunyai perhatian terhadap gaya ”mainstream” dan Yusuf adalah alumnus dari Institut Musik Daya.

Hasil dari “workshop” mereka sendiri itu adalah keluar album “Extended Play” tahun 2010. Album ini benar-benar menjadi ruang permainan musik mereka yang terbentang dengan kebebasan dengan mencari melodi-melodi komposisi orisinil mereka yang dibalut dengan ritmik yang komplek. Setahun berikutnya mereka kembali merilis album keduanya “String Attached: Live at Birdcage” dengan menghadirkan bintang tamu string quartet. Tahun 2012 ini ada perubahan formasi. Posisi Indrawan diganti oleh Kevin Joshua dan Yusuf digantikan oleh Elfa Zulham.

Comments (0)

Foto Ketzia

Ketzia Laurentyna

Posted on 18 September 2012 by wawan

Ketzia Laurentyna, demikian nama lengkapnya, pendatang baru dalam belantika musik jazz. Penampilan kolaborasinya bersama dengan teman-teman Fombi (Forum Musik Tembi) membawakan musikalisasi puisi dibawah siraman sinar bulan purnama begitu apik. Membawakan dua puisi dari Sapardi Djoko Damono dan Landung Simatupang, puisi ini dibawakan dengan sentuhan jazz sehingga terasa segar di telinga. Selain itu, kita bisa melihat kebolehannya dalam menyanyi di beberapa video yang diunggah ke situs Youtube, salah satunya adalah cover dari lagu Payphone dari Maroon 5.

Ketzia sendiri sudah bergelut di dunia musik cukup lama. Dari usia 3 tahun, Ketzia sudah bergelut dengan dunia musik. Berkolaborasi dengan Cisya Kencana Orchestra dan Andi Bayou Project membuatnya makin berkembang lebih jauh lagi. Ketzia juga menjadi salah satu pengisi acara di Majazztic yang diselenggarakan oleh Universitas Melbourne dalam rangka malam Indo-Melbourne night. Saat ini Ketzia telah menyelesaikan sekolahnya dan sekarang fokus pada karir musiknya dengan membuat lagu, menulis puisi dan memaksimalkan gairahnya pada hal-hal yang berbau seni.

Bagi Ketzia, musik sudah menjadi bagian dari jiwanya. Gairah dalam bermusik membuatnya tidak bisa melewatkan hari tanpa bermusik. Jadi hidup tanpa musik akan menjadi terasa membosankan baginya. Kecintaannya pada musik jazz berawal dari ayahnya, yang mengenalkan musik ini semenjak Ketzia masih di usia belia. Ia menyukai jazz seperti yang sudah ada dan berjalan hingga saat ini. Ada kebebasan dalam musik jazz yang dia rasakan dan dirinya bisa terjun dan tenggelam di dalamnya. Bisa dibilang jazz bukanlah hal yang baru baginya dan kecintaannya pada jazz telah membawanya pada sebuah tingkatan yang lebih jauh lagi.

Comments (0)

IMG_6328

Indro Hardjodikoro: Bassis Lintas Jaman dan Genre

Posted on 18 September 2012 by wawan

Untuk para penggemar musik Indonesia dekade 1990an pasti masih menyisakan ingatannya akan sebuah group fusion yang mengkombinasikan jazz, pop, rock, R&B atau etnis; Halmahera. Sampai sekarang pun lagu ‘Kuyakini’ masih sering terdengar di radio-radio. Salah satu motor penting Halmahera adalah bassis kelahiran 14 Desember 1968, Indro Hardjodikoro.

Masih dalam dekade yang sama, pemain bass yang awalnya belajar bersama bassis Bintang Indrianto dan Erwin Gutawa ini juga menjadi salah satu pendiri dari group jazz terkenal Indonesia sampai saat ini, simakdialog. Bersama simakDialog, namanya tercantum dalam dua album pertamanya: “Lukisan” dan “Baur”. Simakdialog sendiri terbilang menjadi sebuah group jazz Indonesia yang sudah mendunia dengan gayanya yang khas. Seperti situs jazz rock terkemuka abstraxlogic.com menyebutnya sebagai group electro-acoustic progressive jazz fusion.

Di antara kesibukannya bersama simakDialog, Indro mulai sering terlihat di berbagai acara musik baik di studio, panggung dan televisi nasional. Beragam musik dia gawangi, dari tampil bersama Chrisye, Addie MS Twilight Orchestra, Magenta Orchestra, Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, Tohpati, Trisum belum termasuk lusinan penyanyi papan atas Indonesia.

Album solo pertamanya sendiri dikeluarkan tahun 2009 dengan judul “Feel’s Free”.  Album ini didukung oleh Demas Narawangsa (drum) dan Lal Intje Makkah (hand keyboard). Dalam album ini Indro jarang menampilkan slappin bass tapi tetap cermelang dalam kesan kelamnya komposisi-komposisi Indro sendiri. Tahun 2011 lalu, bersama Fajar Adi Nugroho (bass), Andy ‘Gomez’ Setiawan (keyboard) dan Yesaya Sumantri (drum) membentuk kelompok The Fingers sekaligus mengeluarkan album “Travelling”. Group ini unik, ada dua bassis yang terlibat. Seperti senandung nada-nada rendah yang indah. Dalam waktu setahun ini, The Fingers sukses tampil beberapa kali di Eropa Timur.

Comments (0)

Sinten Remen

ORKES “SINTEN REMEN”: Daur Ulang Bukan Dosa

Posted on 18 September 2012 by wawan

Pertama kali dibentuk, akibat dari penilaian dan kegelisahan para penggemar orkes keroncong yang sejak dulu hingga sekarang ini perkembangan musik orkes keroncong bisa dikatakan “jalan ditempat”. Untuk itu pada tahum 1997, dibentuk satu komunitas musik keroncong yang kemudian diberi nama Orkes Sinten Remen dengan pimpinan G. Djaduk Ferianto. Kenapa namanya tidak ada embel-embel keroncong ? Orkes Sinten Remen dibentuk untuk menindaklanjuti perkembangan musik secara multidimensi dan tidak membatasi musik lain untuk masuk dan dari segi penggarapan dan aransemen sendiri agar lebih cenderung bebas ke arah mana yang dituju. Sinten Remen sendiri sebenarnya merupakan tindak lanjut dari OKTB (Orkes Keroncong Taman Budaya) yang berdiri kurang lebih pada tahun 1980-an, karena beberapa anggotanya ada yang hijrah dan berdomisili di kota lain dan sangat sulit untuk bersatu lagi. Sedangkan pemain Sinten Remen adalah sisa-sisa dari OKTB tersebut.

Itulah prinsip Orkes Sinten Remen, ketika pertama kali menggarap album kaset. Orkes “urakan”, bahkan sering disebut kenthir / gila ini mencoba mengolah kembali musik keroncong yang semula mapan dan cenderung menjadi kelangenan itu, menjadi musik yang lebih “progresif”. Progresivitas itu tampak antara lain dalam irama, beat, dan juga syair-syairu yang tidal lagi berbau romantik belaka, melainkan lebih kontekstual dengan keadaan dan kondisi sekarang ini. Antara keroncong konvensional dengan Sinten Remen sama-sama sah. Cuma cara pandangnya saja yang berbeda. Pada kasus Sinten Remen, fenomena kehidupan lebih dipandang secara “kritis” dan tidak sekadar romantis sebagaimana dalam “keroncong konvensional”. Konsep Orkes Sinten Remen juga lebih bebas dan akomodatif dan sinkretis terhadap berbagai kemungkinan estetik. Ia bisa menyerap musik apa saja : dangdut, jazz, pop, blues, dll.

Comments (0)

APARATUR / EVENT MANAGEMENT

Posted on 17 September 2012 by wawan

DEPENDALCAR (Dewan Perencana dan Pengendali Acara) / Board of Event Creative

Djaduk Ferianto (Ketua Dewan), Novindra Dhiratara (Anggota Kehormatan), Hendy Setyawan, Aji Wartono, Hattakawa, Bambang Paningron, A. Noor Arief

SEKDA (Sekretariat Dan Apasaja)  / Secretary
Aji Wartono (Kepala Sekretariat), Octa Meme, Sunti Melati, Aji Asfani, Ignatius Kendal, Rizal Fajrian, Andika Diwangkara, Timotius Lorodatu| Koordinator Warga:Bp.Bambang Harmiyanto, Bp.Tarno Utomo, Bp.Priyo Susanto | Sekretaris Warga: Rudy Murwanto | Humas Bagian Umum Warga: Bp.Budi Utomo, Bp.Danang Priyadi, Bp.Maryono, Bp.Ahmad Sadhali | Seksi Usaha Warga: Rahmawan, Agus Yli Santoso, Wawan Hermanto, Sugeng Prakoso | Seksi Keuangan Warga: Suryono

Jawatan Protokoler dan Wahana / Productions Department
Dinas Wahana: Donny Baskoro (Kadis), Likat (Ass. Kadis Wahana), Bobby, Yoga, Robby, Jarot, Gombloh | Kordinator Keamanan Warga: Bp.Dwi Sapto Kurniawan | Kordinator Parkir Warga: Bp.Suwarno | Kordinator Perlengkapan Warga: Bp.Sudarmadi|Dinas Protokoler: Gading Paksi  (Kadis), Rere, Hirwan, Ifada, Fifi, Ndaru, Hanif, Derry, Dimas, Chandra, Taufik, Izur|Bidang Tata Bunyi: Anton Gendel (Kabid), Yosi Herman, Tebleh, Momon |Seksi Teknik:  Piyel (Kasie), Keong, Mbendhol, Yuhen, Sidas | Koordinator Birokrasi Dan Ceremonial Warga: Bp.Susmiarto

Jawatan Penerangan / Communications Department
Hattakawa (Kajawat), Annisa Sekar Pratiwi, Fransisca Satya Chrisprastika, Ratna Mufida, Whini Ika Visiarani, Anies Nasution, Karima Ayu Permatasari, Gusti Arirang, Eleonora Fidela Tristeawati, Dewantoro Purbo Gesang, Nadia Makhya, Arasy Amri |Seksi Juru Foto: Arief Sukardono (Kasie), Caesar M. Valavil, Agung Ableh Prasetyo, Wisnu Aji Satria | Seksi Juru Warta: Ceto Mundiarso (Kasie), Resa Setodewo, Lelaki Budiman, Agnes Gita Cahyandari, Agung Wilis Yudha Baskoro| Seksi Juru Kamera dan Rekam: Fakultas Media Rekam ISI Yogyakarta

Jawatan Pelayanan, Kenyamanan, dan Kerumahtanggaan / Hospitality Department
Hendy Setyawan (Kajawat) |Dinas Perhubungan & Pemondokan: Itonk (Kadis) | Seksi Keuangan:  Ida Fitri (Kasie) |Dinas Pangan & Minum: Koko (Kadis), Mahbob, Boy Adisakti, Andi Prasetya, Tri Nugroho, Susanto, Muthia | Dinas Pangan & Minum Warga: Ibu Dukuh, Ibu Endang, Ibu Anik| Dinas Pendampingan: Tri Nugroho Inud (Kadis), Indra, Heppy, Eka, Yoga, Sekar, Bela, Uci, Alex, Cendy, Ceto Mundiarso

Jawatan Tata Wahana / Artistic Department
Bambang Paningron (Kajawat), A. Noor Arief, LikDi, Edoxedo, Anggun, Nova |Dinas Pasar: Budi Bujhel (Kadis), Santoso Tri Harjono, Widya Tri Lambang Putra, Angger Rengga Hutama, Prihastoro Suryo Kuncoro, Esang Suspranggono, Anggara Prila Nugraha, Sam Saptono, Farid Rahadhian| Dinas Grafis: Dagadu dan PT Djarum

Dibantu dan disengkuyung sepenuh hati oleh para tokoh dan warga Desa Wisata Brayut, Pandowoharjo, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Comments (0)

kompas Telkomsel Sriwijaya Air
Lusy Laksita Djarum Super Sumberrigging
GS Photography Thunder SHM
Mataram City Tembi Rumah Budaya Embassy of switzerland in indonesia
Prohelvetia Regal Springs DKSH
AO Transport Fokus Gege Transport
Kalasan Multimedia Institut Francais Indonesia Madflash
Ibis Hotel Yogyakarta Ibis Style Hotel Hyatt Regency Yogyakarta
POP hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta Harian Jogja
Koran Sindo Jogja TV Radar Jogja
Snoovmedia Tribun Jogja jogja-mag
jogjastreamers Jogja News Info Jogja
Koran Tempo Liburan Jogja Getart
Jazzuality Kabare Magazine My Magazine
Event Guide Trijaya Palembang Ardia FM
Iradio Jiz FM Geronimo
Swaragama Jogja Family Eltira
Unisi Sonora PamitYang2an
bakpiapia oscros bu-ageng
dixie food-fezt kedai-kopi
lecker legend legend-Premium
R&B sogul warung-pasta
warung-heru calzone momento
myoozink oxen-free sarafin
djendlo prada phoenam
pams Kopi oey Citra Net

 

 

 

Following